PENGGUNAAAN MODEL MAKE A MATCH BERBANTUAN SQUARE BOX DALAM PEMBELAJARAN MENEMUKAN
NILAI MORAL PADA CERPEN DI SMA
Siti
Zulianti 1410301030
A.
PENDAHUUAN
Pendidikan adalah usaha sadar
dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran. Hal ini
dimaksudkan agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya.
Pendidikan sendiri selalu erat kaitannya dengan proses pembelajaran di sekolah. Tujuan
kegiatan belajarnya pun harus senantiasa menghadirkan pembelajaran yang
mengasyikkan dan mempunyai pembaruan.
Berdasarkan UU No 20 Tahun
2003, Tujuan Pendidikan Nasional
tertuang dalam Sistem pendidikan Nasional yaitu mengembangkan potensi peserta
diddik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Dalam proses pembelajaran,
keterampilan dan pemahaman peserta didik dalam memahami materi nilai-nilai
dalam cerpen dirasa masih kurang. Terbukti dengan rendahnya minat belajar
peserta didik dalam mengikuti pembelajaran. Dalam hal ini, pembelajaran yang
terkesan monoton berhasil menyumbangkan peranannya berkaitan dengan minat belajar
peserta didik yang rndah. Motivasi dan semangat belajar yang tinggi juga mempunyai
peranan yang sangat penting alam keberhasilan pembelajaran.
Pembelajaran yang ditemukan
saat ini banyak yang hanya berpusat pada pendidik. Peserta didik hanya duduk mendengarkan
dan pendidik eramah mengenai materi yang akan diajarkan. Hakikatnya, pembelajaran
dengan model seperti itu pasti menimbulkan kejenuhan dari peserta didik. Model pembelajaran
yang seperti itu tentu mempunyai kelemahan yang menimbulkan pembelajaran yang
kurang efektif an efisien. Kelemahan tersebut dapat terlihat dari proses belajar
mengajar yang kurang interaktif. Interaksi antara pendidik dan peserta didik
akan jarang terjadi. Pembelajaran yang baik harus senantiasa memberikan peluang
peserta didik untuk lebih aktif, bukan sebaliknya.
Materi pembelajaran yang
iajarkan oleh pendidik snantiasa mengacu pada silabus. Materi pembelajaran menulis
terdapat pada Kompetensi dasar kelas X SMA. Menemukan nilai nilai dalam cerpen
termasuk salah satu Kd yang harus terpenuhi. Adapun Kd nya ialah Kd .8 Mengidentifikasi
nilai nilai kehidupan yang terkandung dalam kumpulan cerita pendek yang dibaca.
Dalam pembelajarannya, materi tersebut masih menemui beberapa kenala. Salah
satunya ialah kesalahan peserta didik dalam menafsirkan isi atau penggalan
karya sastra. Dalam hal ini akan memaksa siswa menyodorkan jawaban sebelum mengetahui
nilai yang sebenarnya disamaikan oleh pendidik. Alasanya, merka kurang menalami
tentang nilai nilai alam cerpen.
Berdasarkan pemaaran di atas, pemakalah
memberikan alternatif model pembelajaran yang menarik yakni Model Make A Match dengan
judul Penggunaaan Model Make A Match Berbantuan Square Box dalam Pembelajaran
Menemukan Nilai Moral pada Cerpen di SMA. Dengan mnggunakan Model Make A Match,
pesrta didik dapat menari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik
dalam suasana yang menyenangkan.
B.
KAJIAN
PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
1.
Kajian Pustaka
Kajian pustaka merupakan suatu
penelitian-penelitian terdahulu yang sudah dikaji oleh orang lain. penelitian
yang berkaitan dengan model pembelajaran Make
A Match sudah banyak dijadikan bahan penelitian oleh banyak peneliti.
Namun, penelitian tersebut memiliki pembeda.
Penelitian yang dilakukan oleh
Maria Ulfah tahun 2014 di Universitas Negeri Semarang ini berkaitan dengan
keterampilan membaca. Penelitian ini berjudul Peningkatan Keterampilan Membaca
Huruf Jawa melalui Model Pembelajaran Make
A Match pada Siswa Kelas IV SDN Salaman Mloyo Semarang. Perumusan masalah
dalam penelitian ini ialah 1) Apakah keterampilan guru dalam pembelajaran
membaca kalimat huruf jawa dapat ditingkatkan melalui Model Pembelajaran Make A Match pada Siswa Kelas IV SDN
Salaman Mloyo Semarang?, 2) Apakah aktivitas dalam pembelajaran membaca kalimat
huruf jawa dapat ditingkatkan melalui Model Pembelajaran Make A Match pada Siswa Kelas IV SDN Salaman Mloyo Semarang? , 3)
Apakah keterampilan membaca kalimat huruf jawa pada siswa dapat ditingkatkan
melalui Model Pembelajaran Make A Match pada
Siswa Kelas IV SDN Salaman Mloyo Semarang?. Tujuan umum penelitian ini adalah
meningkatkatkan keterampilan membaca kalimat huruf jawa pada siswa kelas IV SDN
Salaman Mloyo Semarang.
2.
Landasan Teori
Landasan teori adalah
sekumpulan teori yang berkaitan dengan topik yang akan diteliti. Landasan teori
mempunyai kegunaan untuk memperkuat penelitian yang akan dilakukan. Dalam
penelitian ini, landasan yang digunakan dalam penelitian ini ialah 1)
Pengertian cerpen, 2) Syarat-syarat cerpen yang baik, 3)Unsur Ekstrinsik, 4)
Model Pembelajaran, 5) Model Pembelajaran Make
A Match, 6) Media Square Box.
2.1
Pengertian Cerpen
Menurut Priyanti (2010:126) Cerita Pendek adalah salah satu bentuk karya
fiksi.
2.2
Syarat-syarat Cerpen yang Baik
a.
Mempunyai satu konflik dan
penyelesaian
b.
Mempunyai pembukaan, isi,
penutup
c.
Menggunakan bahasa sastra
d.
Pemilihan kata yang tepat dan
tidak mempunyai makna yang ambigu
e.
Berbentuk semi paragraf.
2.3
Unsur Ekstrinsik
2.3.1
Latar Belakang Masyarakat
Latar belakang masyarakat adalah faktor lingkungan
masyarakat sekitar yang mempengaruhi pengarang dalam penulisan cerpen.
2.3.2
Latar Belakang Penulis
Latar belakang penulis adalah sebuah faktor dari dalam
diri penulis yang mendorong penulis dalam menulis cerpen.
2.3.3
Nilai yang Terkandung dalam
Cerpen
Terdapat beberapa nilai-nilai yang terkandung dalam
cerpen. Nilai-nilai tersebut salah satunya ialah nilai moral. Nilai moral berkaitan
dengan akhlak atau budi ekerti atau susila, baik buruk tingkah laku seseorang.
2.4
Pengertian Model Pembelajaran
Model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang
tergambar dari awal sampai akhir, yang disajikan secara khas oleh guru di
kelas. Model pembelajaran mempunyai pengertian yang sangat dekat dengan
strategi pembelajaran (Asih, 2016 : 138).
2.5
Pengertian Model Pembelajaran Make A Match
Model pembelajaran make
a match, menurut Rusman (2011:223-223) make
a match adalah membuat pasangan dan merupakan salah satu jenis dari metode
pembelajaran kooperetif. Metode ini dikembangkan oleh Lorna Curran (1994).
Peserta dapat belajar sambil bermain mengenai konsep atau topik dengan suasana
yang menyenangkan merupakan salah satu keunggulan dari model make a match
ini.
2.6
Pengertian Square Box
2.6.1
Pengertian Square Box
Square Box adalah semacam alat yang menggunakan box
sebagai media berbentuk kotak persegi yang didalamnya berisikan penggalan
cerpen atau nilai moral.
2.6.2
Langkah-langkah membuat Square Box
a.
Siapkan kertas karton yang
dibentuk kotak persegi sejumlah siswa.
b.
Kotak persegi yang sudah siap
berdasarkan jumlah siswa dibagi menjadi dua bagian. Satu bagian untuk ditulis
penggalan cerpen dan satunya lagi dituliskan nilai-nilai dalam cerpen.
2.6.3
Kelebihan dan kekurangan Square Box
a.
Kelebihan
1.
Membuat siswa lebih termotivasi
dalam belajar.
2.
Proses pembelajaran lebih
menarik dan mengesankan.
3.
Materi pembelajaran lebih mudah
ditangkap dan dipahami siswa.
b.
Kelemahan
1.
Menuntut guru untuk lebih
inovatif.
2.
Media yang digunakan hanya bisa
digunakan dalam satu kali pakai karena berhubungan dengan satu materi saja.
3.
Biaya yang dibutuhkan cukup
banyak.
C.
PEMBAHASAN
1.
Langkah-langkah Model
Pembelajaran Make A Match
a.
Guru terlebih dahulu membagi
siswa dalam dua kubu kelompok. Satu kubu jawaban an satu kubu soal.
b.
Guru mempersiapkan kotak
persegi yang didalamnya berisikan penggalan cerpen atau nilai moral yang sesuai
dengan topik bahasan.
c.
Tiap-tiap siswa mendapatkan
satu kotak persegi.
d.
Siswa diberi waktu untuk
mencari pasangan kotak persegi yang sesuai atau cocok dengan yang didapatnya.
e.
Siswa yang berhasil mendapatkan
pasangan dari kotak persegi yang diperolehnya akan mendapatkan poin dari guru.
2.
Kelebihan dan kelemahan model make a match
a.
Kelebihan
1.
Meningkatkan aktivitas belajar
siswa, baik kognitif maupun fisik.
2.
Menyenangkan karena ada unsur
permainan.
3.
Meningkatkan pemahaman siswa
terhadap materi yang dipelajari.
4.
Meningkatkan motivasi belajar
siswa.
5.
Efektif sebagai sarana melatih
keberanian siswa.
6.
Efektif melatih kedislipinan
siswa menghargai waktu untuk belajar.
b.
Kelemahan
1.
Membutuhkan banyak waktu jika
tidak disiapkan dengan baik.
2.
Pada awal penerapan, banyak
siswa yang akan malu berpasangan dengan lawan jenis.
3.
Guru memerlukan banyak waktu
untuk menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
4.
Kelas menjadi kurang kondusif
jika guru kurang menguasai kondisi kelas.
5.
Jika digunakan terus menerus,
model ini tentu akan menimbulkan kebosanan.
3.
Langkah-langkah penerapan
menemukan nilai dalam cerpen dengan model make
a match berbantuan square box
a.
Guru terlebih dahulu membagi
siswa dalam dua kubu kelompok.
b.
Guru mempersiapkan kartu yang berisi materi yang sesuai dengan
topik bahasan.
c.
Tiap-tiap siswa mendapatkan
satu kartu.
d.
Siswa diberi waktu untuk
mencari pasangan kartu yang sesuai atau cocok dengan kartu yang didapatnya.
e.
Siswa yang berhasil mendapatkan
pasangan dari kartu yang diperolehnya akan mendapatkan poin dari guru.
4.
Contoh Cerpen yang Baik
Perjalanan Terindah
Di kesunyian, alarm berbunyi. Teralunkan musik merdu,
terdengar bersemangat berjudul Sang Pemimpi. Mataku sedikit terbuka, pertanda
mimpi indah malam ini telah usai. Jam menunjukkan pukul 03.00. Aku tetap
terbaring, bukan berarti malas. Kuhayati setiap lirik musik yang kudengarkan,
penuh dengan makna. Aku masih terbaring, kukumpulkan semangatku saat itu. Musik
reff terdengar, semangatku semakin berkumpul. Ku terbangun dan langsung kubuka jendela kamarku. Angin
pagi berhembus menyegarkan, walaupun memang masih gelap. Bibir ini berbisik,
ucapan do’a tanda syukurku atas dibangunkannya jasad ini dari alam yang tak
kukenal. Aku siap melewati hari ini.
Aku berjalan menuju ruang makan,
kulihat ibu telah menyiapkan makan sahur. Hari ini hari senin, sudah menjadi
amalan andalan kami untuk berpuasa setiap hari senin dan kamis. Ku tersenyum
pada ibu, kuteruskan langkahku untuk membasuh muka, menyegarkan wajah kusutku
seusai bangun tidur. Berdua saja kami duduk di depan meja makan, aku dan ibuku.
“Sudah siapkah semua barangnya,
Nak?” tanya ibuku.
“Tentu saja sudah, Bu. Tinggal
berangkat saja”, jawabku.
“Hati-hati ya kalau sudah di
sana. Terus hubungi ibu, takut terjadi apa-apa” ucap ibuku, sedikit khawatir.
“Tenang saja, Bu. Lily bisa jaga
diri kok, insya Allah”, ujarku.
“Baguslah kalau begitu. Seusai
shalat subuh, ayah akan langsung mengantarmu ke stasiun”.
Aku hanya tersenyum dan
mengangguk. Kulanjutkan membereskan apa saja yang harus ku bawa. Aku mungkin
terlalu keasyikan, setelah shalat subuh aku malah terdiam dan merenung. Bersama
kesunyian aku membayangkan, mimpiku ternyata bisa terwujud. Dengan keadaan
keluarga yang apa adanya, aku bisa kuliah tanpa mengeluarkan biaya sedikitpun.
Di dalam lamunanku, aku terkejut.
“Neng!” ucap ayahku dengan kerasnya.
“Iya Ayah?” jawabku kaget.
“Ayo, sudah pukul lima. Nanti terlambat masuk kereta” ucap ayahku cemas.
“Oh, baiklah Ayah”.
Dengan menaiki motor yang begitu khas suaranya, kami mulai berangkat. Ibu
tak ikut mengantarku, katanya dia harus menjaga rumah. Lagipula tak bisa bila
harus menaiki motor dengan tiga orang
penumpang sambil membawa barang yang cukup banyak, sungguh hal yang mustahil.
“Jaga diri baik-baik, Nak. Banyak berdo’a. Tetap semangat, jangan lupa
ibadahnya”, nasehat dari ibuku.
“Baik, Bu. Do’akan saja Lily semoga semuanya bisa barakah bagi kehidupan
Lily” ucapku, dengan mata yang cukup berkaca-kaca.
“Iya, Nak. Ibu pasti akan selalu mendo’akanmu. Kalau begitu lekaslah, takut
ketinggalan kereta”, ucap ibuku dengan air matanya yang menetes.
“Kalau begitu kami berangkat dulu, Bu. Assalamu’alaikum”, ucap ayahku.
“Wa’alaikumsalam”, jawab ibuku.
Aku pun bersalaman dengan ibu, begitupun ayah. Air mata membasahi pipi ibu.
Aku mengerti, memang seperti itulah perasaan seorang ibu. Air mataku pun ikut
terjatuh, hatiku luluh. Segera ku bergegas menaiki motor sambil menghapuskan
air mataku. Begitu dinginnya subuh itu. Namun untungnya aku tetap merasakan
kehangatan, dari jaket pemberian ibuku dan dari hangatnya punggung ayahku.
Kereta beberapa menit lagi berangkat. Aku berlari dengan kencangnya bersama
ayahku, membawa barang yang cukup berat. Tepat di depan pintu kereta aku
berdiri.
“Hati-hati ya Nak. Kalau ada apa-apa hubungi ayah atau ibu. Banyak berdo’a
di jalan. Musafir do’anya sangat mustajab. Kabari ayah kalau sudah sampai”.
ucap ayahku dengan lembutnya.
“Baik, Ayah. Doakan Lily ya”, ucapku tersenyum, namun dengan air mata yang
menetes.
Ayah mengangguk. Aku masih tetap tersenyum. Tepat saat itu, kereta mulai
berjalan. Aku pun masuk, kucari tempat duduk yang masih kosong, tepat di
pinggir jendela. Kulihat ayahku masih berdiri, menunggu keberangkatan kereta
hingga sampai jauhnya. Aku masih tetap tersenyum bersama linangan air mata.
Ayahku, ibuku, dan juga desa yang kucintai ini pasti akan amat kurindukan. Di
dalam hati aku semakin bertekad, aku harus bisa menggapai cita-citaku dengan
baik. Ikhtiar dan do’a, sudah pasti harus selalu kulakukan.
Perjalanan di dalam kereta memang amat membuatku nyaman, menurutku. Apalagi
dengan duduk tepat di pinggir jendela. Di pagi hari yang cerah, pemandangan
yang indah tentu sudah sangat cukup untuk menyegarkan penglihatan ini. Asri,
indah nan permai. Inilah salah satu tanda kekuasaanNya. Sesekali ku beranjak
dari tempat dudukku, melangkah menuju pintu kereta. Angin berhembus, menerpa
hijab biru mudaku, menggerakkan bibirku hingga akhirnya dapat tersenyum
refleks, tanpa sadar. Di depan mataku terlihat sawah yang terhampar luas.
Langit biru, bersama para awan dan juga burung yang beterbangan semakin
memperindah suasana ini.
“Maaf Mba, bisakah Anda menyingkir dulu dari sini?”, ucap seorang lelaki
berbaju merah dengan celana jinsnya yang begitu rapi, ditambah dengan sepatu
ala boybandnya berwarna matching dengan kaos merahnya. Aku sedikit ilfeel dengan gayanya saat berbicara
itu. Ditambah gaya pakaiannya yang seperti orang kota. Memang tampan, namun
raut wajahnya seperti orang yang angkuh. Itulah pemikiranku, sebagai seseorang
yang sederhana.
“Kalau ga mau, gimana?”, ucapku sinis.
“Maaf mba, hati-hati kalau berdiri di situ, berbahaya”.
Aku terdiam. Di hatiku terjadi perdebatan. Aku menganggapnya orang kota
yang angkuh, namun setelah kulihat ternyata ucapannya terasa lembut. Aku
bingung, namun saat itu aku lebih memilih sinis kembali padanya. Orang kota
dengan gaya seperti itu pastilah sombong, dan terkadang selalu menyakiti hati
orang-orang yang sederhana, apalagi perempuan sepertiku. Bila dia memang
berlaku baik padaku, dia pasti memiliki maksud yang tidak baik. Seperti apa
yang dikatakan orang-orang di sekitarku, dan juga sesuai dengan pengalaman
pribadiku, bahwa laki-laki yang terlihat angkuh namun memiliki wajah yang tampan,
pastilah dia selalu menyakiti hati seorang wanita.
Lelaki itu berkata “Maaf mba, berbahaya berdiri di situ, saya hanya memberi
tahu. Lagipula....”, aku memotong ucapannya.
“Maaf ya mas, kalau bahaya ya biar saja. Lagipula berbahaya buat saya,
bukan buat Mas!” ucapku semakin sinis.
“Tapi mba..”
“Tapi apa? Jangan paksa saya dong!” ucapku dengan lebih sinis lagi.
“Maaf Mba, silakan jika mau tetap berdiri di situ. Tapi...”, ucapannya
dipotong lagi olehku.
“Tapi apa?” sentakku. Aku tahu ini tidak baik, tapi aku tetap pada
pendirianku yaitu berlaku sinis kepada laki-laki, apalagi yang belum kukenal.
“Mohon maaf sekali Mba, saya mau lewat ke gerbong sebelah. Saya sudah
ditunggu oleh teman saya. Sebentar saja Mba, kalau saya sudah lewat, silakan
kalau Mba mau berdiri lagi di situ”, ucapnya dengan sopan.
Aku cukup malu sebenarnya. Dia begitu lembut padaku, tapi aku malah
menyentaknya. Akupun melangkah menjauhi pintu kereta itu dan kembali ke tempat
dudukku. Dia pun melewat.
“Makasih, Mba” ucap lelaki itu sambil tersenyum.
Aku tersenyum kecil. Aku pun melangkah, dalam hati aku masih ingin tetap
berdiri di sana. Kutengok ke arah belakangku, kulihat lelaki itu malah berdiri
di tempat dimana aku berdiri tadi kemudian tersenyum. Aku sedikit kesal,
kemudian akupun menghampirinya.
“Katanya mau lewat, nyatanya kamu malah berdiri di situ!” teriakku padanya.
“Oh, iya maaf Mba. Cuma mau berdiri sebentar, sekarang pun mau ke gerbong
sebelah. sekali lagi maaf ya, Mba” ucapnya dengan begitu ramah. Dia pun
berjalan meninggalkan gerbong yang ku tempati, menuju gerbong sebelah. Aku
terdiam. Aku pun berdiri kembali di pintu kereta sambil melihat pemandangan
dari setiap jalan yang kulewati. Akupun dapat tersenyum kembali dengan melihat
semua itu.
Dari pagi sampai siang, gerbong yang ku tempati memang penuh. Namun
ternyata lama-kelamaan, penumpang satu persatu turun dari kereta. Gerbong mulai
kosong, maklumlah memang tujuan yang ku tuju adalah stasiun pemberhentian
akhir, jadi aku harus tetap duduk di kereta hingga stasiun akhir, yaitu di
Malang. Cukup sepi juga. Aku masih tetap asik melihat pemandangan sambil duduk
di kursi dekat jendela kereta. Aku merenung dan terkadang tersenyum sendiri.
Kulihat kembali lelaki berkaos merah tadi, duduk di dekat pintu gerbong sambil
memegang kamera SLRnya. Dia memotret segala yang ada di sekitarnya, dan dia
seperti memotret ke arahku. Rasa suudzon mulai muncul kembali di dalam hatiku,
sepertinya dia hendak mengambil fotoku. Bagaimana bisa aku membiarkan seseorang
yang tak kukenal mengambil foto wajahku. Aku pun beranjak dari tempatku, dan
langsung menghampirinya.
“Kamu mengambil foto-fotoku? Buat apa, kamu orang asing, berani-beraninya
mengambil fotoku!” ucapku dengan nada yang cukup tinggi. Dia hanya terdiam. Aku
pun merebut SLR di tangannya. Kulihat foto-foto yang tadi dia ambil. Ternyata
bukan fotoku, ada beberapa foto yang kulihat dan itu adalah foto-foto
pemandangan di sepanjang jalan yang telah dilewati. Seketika itu dia merebut
kembali SLRnya dengan wajah yang sinis. Aku amat tak berkutik waktu itu. Dia
sepertinya kesal padaku. Aku terdiam, aku merasa amat bersalah.
“Maaf, Mas”, ucapku. Tanpa melihat wajahnya, aku langsung berlari ke tempat
dudukku. Aku malu. Mengapa aku harus suudzon kepadanya, ditambah lagi kejadian
tadi pagi saat aku menyentaknya. Semakin ku mengingatnya, semakin ku merasa
bersalah padanya. Perjalanan masih jauh, aku belum shalat dzuhur. Biarlah,
mungkin nanti bisa diqashar. Kereta berhenti di sebuah stasiun, menunggu
penumpang yang akan segera masuk. Sesekali pengamen dan juga para pedagang
masuk. Seorang anak kecil datang menghampiri penumpang dan memberikan amplop
yang bertuliskan sesuatu.
Bapak/Ibu, mohon kasihani kami. Kami
belum makan, kami lapar. Mohon minta keikhlasannya. Semoga amalan Bapak/Ibu
diterima di sisi Allah, Amin.
Itulah kata-kata yang tertulis di amplop itu. Hati kecil ini merenung,
betapa kerasnya kehidupan mereka. Kulihat dompetku, tak begitu banyak uang di
sana. Kusisihkan sedikit saja, mungkin dapat membantu mereka. Mereka tidak
mungkin berbohong, kalaulah memang mereka berbohong, aku yakin bahwa mereka
membutuhkan uang dari orang lain. Sungguh hatiku tersentuh melihat anak kecil
itu.
Sesekali aku melihat ke ujung kereta, duduk seorang lelaki berkaos merah
tadi. Teringat kembali rasa bersalahku tadi. Aku hanya diam. Walaupun begitu,
aku masih tetap saja ingin berdiri di dekat pintu kereta. Akupun berdiri
kembali di sana, di dekatku duduk lelaki itu. Namun dia tidak menolehku
sedikitpun, dia sepertinya marah
padaku.Aku pun memakluminya bila dia bersikap seperti itu padaku. Handphone ku
bergetar, ku kira ada telepon dari ayah atau ibu, ternyata hanya sms dari
operator seluler. Aku terdiam kembali, aku lupa tidak mengisi pulsaku, jadi aku
hanya bisa menunggu telepon dari orang tuaku.
Aku kembali merenung, melamun. Itulah kebiasaanku di waktu senggang,
memikirkan berbagai hal, memberaikan segala fantasi yang ada di benakku. Aku
terkejut. Lelaki berkaos merah itu menghampiriku dan langsung membawa handphone
yang ku pegang. Dia berlari keluar dari gerbong kereta. Aku refleks mengejarnya
keluar. Dia tersenyum. Aku kelelahan, sambil berlari aku berteriak.
“Hey kamu! Kembalikan handphoneku! Mau kau apakan handphoneku. Heyy!”. Dia
menoleh, kemudian tersenyum kembali. “Sini saja ambil, kejar dong!”.
“Aku cape! Kamu siapa sih! Tolong jangan ambil hp itu. Aku masih
memerlukannya untuk menghubungi keluargaku. Heeeeey!”, teriakku dengan lebih
kencangnya lagi.
Dia malah berlari semakin kencang. Apa boleh buat, akupun harus berlari
dengan kencang pula. Tapi jangan diremehkan, akupun bisa berlari dengan
kencang, maklum juara estapet se-kecamatan pada saat sd. Aku semakin sulit
mengejarnya. Aku tak tahu seberapa jauh aku berlari, yang pasti aku harus
mendapatkan handphoneku. Di suatu tempat dia berhenti. Aku menghampirinya
dengan nafas yang terengah-engah.
“Kok berhenti! Kenapa gak lari lagi aja sih sekalian! Puas kan!” teriakku
dengan begitu kerasnya.
“Santai aja, Mba. nih Hpnya”, ucapnya sambil tersenyum.
“Loh, maksud kamu apa sih! Bawa hp saya, terus sekarang dikembalikan lagi.
Ga ada kerjaan ya emangnya ......”, ucapanku berhenti. Dia memegang dahuku, dan
mengarahkannya ke segala arah di sekitarku. Dia pun tersenyum. Seketika aku
berkata, “Subhanallah”.
Tanpa aku sadari, aku telah berlari jauh dengannya hingga tiba di sebuah
taman yang penuh dengan bunga. Keadaannya yang amat bersih dan asri membuatku
terkesima tanpa batas. Aku tersenyum, terdiam, menengadah ke arah langit biru.
Sungguh, inilah salah satu keindahan atas segala kekuasaanNya yang lain.
Fatahmorgana alam yang begitu menyejukkan, jutaan warna yang berbeda, hidup
membentuk sebuah kesatuan yang begitu luar biasa. Renunganku itu membuatku lupa
akan segalanya untuk beberapa saat. Setelah itu aku teringat kembali akan suatu hal.
“Mengapa kau membawaku kemari, Mas?” tanyaku pada lelaki berkaos merah itu.
“Sudahlah, tak usah banyak tanya. Nikmati keindahan dari Sang Pencipta
ini”, ucapnya sambil tersenyum.Dia memegangku dan membawaku lari. Dia tertawa,
akupun tertawa. Aku tak tahu pasti mengapa aku tertawa, mungkin karena di dalam
hati kecilku tumbuh perasaan yang amat membahagiakan. Dia membawaku berlari di
sekitar taman, memetik banyak bunga yang berwarna-warni.
“Tunggu, Mas. Saya belum shalat. Bisakah kita shalat dahulu”, ucapku.
“Astagfirullohaladzim, saya pun lupa Mba. Baiklah kita shalat terlebih
dahulu. Di sekitar sini ada mesjid”, ucapnya dengan raut wajah yang menyejukan
hati.
Kami berjalan, melangkah di jalan yang penuh dengan pohon. Daun beguguran
diterpa angin yang bertiup dengan begitu lembutnya. Kesejukan hati ini amat
dapat kurasakan. Beberapa menit kami berjalan, kami pun tiba di sebuah mesjid.
Subhanallah, mesjid yang megah dan indah. Para jamaahnya pun banyak, ada yang
sedang membaca Al Qur’an, ada yang sedang duduk beristirahat, dan masih banyak
lagi. Kami pun shalat berjamaah di sana.
Seusai shalat, kami berjalan-jalan kembali. Sesekali kami membeli dagangan
yang ada di sekitar taman, seperti es krim, roti bakar, dan yang lainnya.
Tempat singgah yang terakhir yaitu di bawah pohon yang amat rindang, di sebuah
ayunan sederhana, kami duduk bersama.
“Mengapa kau mengajakku kemari?” tanyaku padanya.
“Tak apa, aku hanya ingin merasakan bisa dekat denganmu saja”, jawabnya.
“Memangnya mengapa? Kau tak mengenalku bukan?”, tanya ku kembali.
“Tentu saja tidak. Tapi saat aku melihat wajahmu, sepertinya ada suatu hal
yang kurasakan. Perasaan yang tak pernah kurasakan sebelumnya”, jelasnya.
“Memangnya perasaan apa? Kamu itu memang aneh ya”, ujarku.
“Ternyata kamu itu bawel ya. Tapi bikin asyik juga” ucapnya tersenyum
kembali.
“Maaf ya atas perlakuanku tadi”, ucapku menyesal.
“Sudahlah, tak usah terlalu difikirkan. Tak usah minta maaf, ekspresi
wajahmu saat kau kesal padaku bukan membuatku kesal padamu. Aku malah ingin
tersenyum sendiri bila mengingatnya”, ujarnya.
“Yah, gausah ngegombal lah. Eh iya, aku hampir lupa. Aku kan sedang dalam
perjalanan menuju Malang. Ya Allah, tasku masih di dalam kereta. Pasti kereta
telah meninggalkanku sejak tadi! Astagfirullohal’adzim”, ucapku dengan mata
yang berkaca-kaca. Aku pun berlari meninggalkan lelaki itu. Dia memegang
tanganku.
“Tak usah terburu-buru. Kamu masih punya waktu sekitar satu jam lagi”
ucapnya seakan menghiburku.
“Satu jam lagi? Bagaimana bisa? Kereta pasti sudah berangkat dari tadi!”
ucapku dengan nada cukup tinggi.“Memang sudah berangkat” ujarnya malah
tersenyum.
“Terus, aku gimana? Ini dimana? Bagaimana aku bisa sampai ke Malang.
Ditambah lagi barangku masih ada di kereta. Aku mau ke stasiun sekarang”.
Akupun berlari meninggalkannya. Dia mengejarku, aku berlari lebih kencang
lagi sambil menangis. Aku takut, aku takut tak bisa sampai menuju cita-cita
yang kutuju. Lelaki berkaos merah itu berhasil mengejarku.
“Mau kemana, Mba?” ucapnya khawatir.
“Tentu aku mau ke stasiun. Aku mau ke Malang. Kamu siapa berani mencegahku?
Kamu mau menculikku?” teriakku padanya.
“Ya Allah Mba. Sabarlah dulu”, ucapnya semakin khawatir.
“Maaf Mas. Aku ketakutan”, ucapku kemudian terdiam.
“Tak usah takut Mba. Ada Allah SWT bersama Mba”, ujarnya. Aku terdiam.
“Jangan khawatir Mba. Barang Mba
sudah saya bawa. Pemberangkatan menuju Malang akan dimulai pukul 17.00. Tiket
sudah saya pesankan. Nanti saya antarkan ke stasiun. Untuk sekarang izinkan
saya menemani Mba sebelum jadwal pemberangkatan dimulai. Saya takut terjadi
apa-apa pada Mba”, jelasnya dengan penuh perhatian.
“Benarkah?”, ucapku. Dalam tangisku aku tersenyum. Dia sungguh lelaki yang
baik. Aku tak tahu siapa dia, tapi aku bisa merasa nyaman dengannya. Dia hanya
mengangguk, setelah itu kami berjalan-jalan kembali ke tempat yang lebih
menakjubkan lagi. Hingga akhirnya, jam menunjukan pukul 16.45. Aku harus segera
ke stasiun.
“Terima kasih ya Mba atas hari ini”, ucapnya dengan wajah yang
berseri-seri.
“Justru aku yang berterima kasih. Maaf telah merepotkanmu”, ucakpku.
Dia tak berkata apapun, hanya tersenyum kecil. Aku
berdiri di pintu kereta. Perlahan kereta berjalan. Dia memberikan sehelai
amplop, entah berisi apa. Senyumnya melebar. Aku semakin menjauh darinya.
Seketika aku lupa menanyakan suatu hal. “Siapa namamu?” teriakku. Dia menjawab,
namun tak terdengar olehku. Yang ada hanyalah tersirat senyum manis di bibirnya
yang seakan terus mengikutiku saat di dalam kereta kemudian merasuki fikiranku.
Aku melangkah menuju kursi dekat jendela kereta. Kubuka amplop yang dia
berikan. Isi dari amplop itu adalah foto-fotoku saat berdiri di dekat pintu
kereta. Ternyata memang benar, dia mengambil foto-fotoku. Aku tersenyum. Aku
bisa merasakannya, merasakan kehangatan tangannya, lembut suaranya, dan
senyuman menawan di wajahnya.
Perjalanan ini akan selalu kuingat, perjalanan
terindah di dalam hidupku. Sejak saat itu, aku semakin merasakan indahnya
hari-hariku. Aku tak tahu dia ada dimana. Yang pasti, untuk saat ini yang harus
aku lakukan adalah menggapai cita-citaku. menjadi kebanggaan orang tuaku dan
dapat menjadi manfaat bagi orang lain. Aku yakin, suatu saat dia akan datang
kembali. Entah kapan, tinggal menunggu waktu yang tepat dari Sang Pencipta.
Inilah keyakinan hatiku. Semoga kita dapat bertemu kembali, dengan kisah yang
indah dan diridhai olehNya, semoga...
D.
PENUTUP
Dengan menggunakan model
pembelajaran make a match, guru dapat
memberikan dorongan motivasi siswa untuk belajar. Selain itu, dengan model
pembelajaran tersebut, proses pembelajaran lebih mudah dipahami dan menjadikan
pembelajaran lebih terkesan karena semua siswa harus aktif dalam
pembelajarannya.
Selain itu, pembelajaran
menemukan nilai-nilai dalam cerpen khususnya nilai moral apat ditingkatkan
menggunakan model pembelajaran make a
match berbantuan square box. Hal
ini dikarenakan model pembelajaran yang menyenangkan dan tidak monoton.
E.
DAFTAR
PUSTAKA
Asih.2016.Strategi Pembelajaran Bahasa
Indonesia.Bandung : Pustaka Setia.
Istarini.2011.58 Model Pembelajaran
Inovatif. Medan : Media Persada.
Rusman.2012.Model-Model Pembelajaran Mengembangkan
Profesionalisme Guru. Jakarta : Raja Grasindo Jaya
Suprijono Agus. 2014.Cooperative Learning.Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Suyatno. 2009. Menjelajah
Pembelajaran Inovatif. Sidoarjo: Masmedia Buana Pustaka.