Label

Kamis, 26 Oktober 2017

ANALISIS NOVEL BEKISAR MERAH


ULFA FAKHIYATUL AILIA
1410301022
VA
 


ANALISIS NOVEL BEKISAR MERAH

SINOPSIS

Karangsoga adalah sebuah desa di kaki pegunungan vulkanik. Keindahan bentangan alam dengan Kalirong yang terletak di sebelah utara Karangsoga yang merupakan nadinya. Darsa menatap bentangan keindahan alam Karangsoga. Hujan semakin deras diikuti guntur dan angin yang kencang semakin membuat Darsa semakin berkecamuk hatinya.  Sebagai seorang penderas dia tidak mungkin menyadap nira dengan cuaca seperti itu. Begitu juga bagi para penderas nira yang lain, mereka harus merelakan pongkor yang penuh nira menjadi masam terlambat diangkat karena hujan yang terus turun. Semangat sejati Darsa kembali muncul ketika melihat cuaca diluar mulai berubah, hujan benar-benar berhenti, bahkan matahari kemerahan muncul dari balik awan hitam. Sementara itu, Lasi mempersiapkan perkakas suaminya; arit penyadap,  pongkor-pongkor, dan pikulannya, serta caping bambu. Namun hari itu bukan keberuntungan bagi Darsa, dia terjatuh dari pohon nira yang penduduk Karangsoga menyebutnya sebagai “kodok lompat”. Akibat dari jatuh itu Darsa mengalami lemah pucuk. Akibat jatuhnya Darsa dari pohon kelapa membuat munculnya berbagai masalah. Darsa suka marah-marah terhadap Lasi. Melihat keadaan Lasi yang selalu dimarahi dan merawat Darsa yang lumpuh itu, mbok Wiryaji tidak tega. Mbok Wiryaji memiliki niat supaya Lasi dan Darsa berpisah. Tetapi Mbok Wiryaji mengurungkan niatnya, ketika mendapat nasihat dari Eyang Mus.
Berbagai upaya dilakukan Lasi supaya Darsa sembuh. Perekonomian yang membuat Lasi akhirnya tidak membawa Darsa ke rumah sakit yang lebih besar, dia memilih untuk membawa Darsa kepada Bunek. Bunek adalah dukun bayi yang sering mengurut. Setelah beberapa bulan Bunek mengurut dan mengobati Darsa, akhirnya Darsa sembuh. Darsa bisa melakukan pekerjaan seperti biasanya dan tetap semangat dalam menyadap nira. Kebahagiaan itu ternyata diikuti suatu masalah karena Bunek menuntut Darsa untuk menikahi Sipah anaknya yang telah mengandung. Berita tuntutan itu telah sampai di telinga Lasi. Lasi tidak tahan mendengar perbuatan suaminya dan perguncingan masyarakat, maka dia meninggalkan Karangsoga. Lasi meninggalkan Karangsoga dengan ikut mobil pengangkut gula menuju Jakarta. Pardi dan Sapon mengijinkan Lasi untuk ikut mereka ke Jakarta, tapi sebelumnya Pardi memberikan pesan rahasia  bahwa Lasi telah ikut mereka ke Jakarta supaya penduduk Karangsoga tidak merasa khawatir. Dalam perjalanan menuju Jakarta mereka singgah pada beberapa warung. Di warung itulah Lasi berkenalan dengan Bu Koneng, Si Anting Besar, dan Si Betis Kering.
Sementara itu Karangsoga ribut membicarakan kepergian Lasi dari desa itu. Darsa hanya mampu meratapi keadaan dan kesalahannya karena telah menyakiti Lasi dengan perbuatannya bersama Sipah anak Bunek. Darsa meminta nasihat kepada Eyang Mus atas semua permasalahan yang dihadapi. Lasi mulai menikmati kehidupan barunya bersama Bu Lanting di kota. Dia tidak menyadari bahwa Bu Lanting ternyata menawarkan dirinya kepada Pak Handarbeni, seorang overste purnawira. Pak Handarbeni berhasil merebut jabatan terpenting pada PT bagi-bagi niaga, bekas sebuah perusahaan asing yang dinasionalisasi. Lasi sudah berdandan dan  bersiap menerima tamu Bu Lanting yang tidak lain adalah Pak Han. Bel rumah berbunyi, ternyata yang datang adalah Kanjat, dia berusaha mengajak pulang Lasi ke Karangsoga, tetapi niatnya itu ditolak Lasi. Bagi Lasi hidup bersama Bu Lanting lebih baik daripada bersama suaminya.  Lasi tidak mau dimaru bareng  sabumi, dimadu dalam satu kampung. Setelah berpikir semalaman, akhirnya Lasi menerima tawaran Bu Lanting yang menjodohkan dia dengan Pak Han. Tetapi sebelumnya Lasi mengajukan keinginan untuk pulang ke kampung halamannya di Karangsoga menemui orangtuanya. Kedatangan Lasi dengan mengendarai sedan dan berpenampilan  menawan itu membuat gempar desa Karangsoga. Selain ingin menemui orangtuanya juga mengurus surat perceraian dengan Darsa. Dengan membawa  Surat Sakti dari seorang overste purnawira di Jakarta yang ditujukan kepada kepala desa Karangsoga dan kepala kantor urusan agama maka talak Darsa pun jatuh.
Berita Lasi menjadi janda sampai kepada Kanjat. Dia menemui Lasi untuk mengutarakan perasaannya. Namun, Lasi menolak maksud Kanjat yang ingin menikahinya dengan alasan dia sudah mempunyai rencana menikah dengan overste muda Pak Handarbeni yang sudah banyak memberinya harta. Lasi akhirnya melaksanakan pernikahan dengan Pak Han di Slipi. Di hari pernikahannya Lasi merasa tidak bahagia karena tidak ada satu pun kerabat yang datang. Pelaksanaan pernikahan itupun sederhana, seperti main-main, bahkan bagi dia lebih menarik pernikahan main-mainnya waktu kecil. Pada malam pertamanya dia harus menerima kenyataan bahwa suaminya impoten. Lasi merasa kecewa namun dia harus menerima kenyataan itu. Sebagai seorang wanita Karangsoga, ia masih menyisakan sedikit keyakinan bahwa seorang istri harus narima. Lasi hanya dijadikan Pak Handarbeni  sebagai bekisar merah, simbol kejantanan Handarbeni di depan teman-temannya.
Lasi yang merasa tertekan dengan keadaan pernikahannya akhirnya bercerita kepada Bu Koneng. Mendengar itu, Bu Koneng berniat menyuruh Lasi meminta cerai dan akan mencarikan suami baru yang lebih kaya. Namun, Lasi masih merasa kasihan terhadap keadaan Pak Han, bagaimanapun Pak Han telah banyak memberikannya kebahagiaan harta. Karena tekanan batin, Lasi akhirnya meminta izin untuk sementara waktu pulang ke Karangsoga menemui emaknya. Lasi menikmati suasana di Karangsoga, bahkan dia sangat menikmati udara, suasana hujan. Malam itu Lasi merasa terusik karena atap kamarnya bocor. Baru dia sadar bahwa ia harus segera memperbaiki rumah orangtuanya yang sudah hampir lapuk. Beberapa hari di Karangsoga Lasi baru ingat kepada Eyang Mus. Ia kemudian menemui Eyang Mus yang kondisinya semakin tua dan tinggal sendiri karena istrinya telah meninggal. Kedatangan Lasi hendak memugar surau mendapat penolakan Eyang Mus. Eyang Mus mengatakan bahwa yang  membutuh  kan bantuan dana adalah Kanjat. Kanjat  memiliki rencana membuat percobaan pengolahan nira besar-besaran. Hari itu Lasi dan Kanjat bertemu,  Lasi menceritakan semua keadaan pernikahnya kepada Kanjat. Ia juga menceritakan rencana perceraiannya. Lasi meminta kepada kanjat untuk menikahinya  ketika ia sudah bercerai dengan Pak Han. Tidak hanya masalah pernikahan yang mereka bicarakan, tetapi juga keadaan yang terjadi di Karangsoga. Kepedihan kehidupan Karangsoga semakin bertambah ketika listrik masuk desa itu. Sebagian pohon kelapa harus segera dirobohkan supaya aliran-aliran listrik lancar. Selain itu banyak penyadap yang tersengat listrik.   Lasi dan Kanjat menemui Darsa yang mengalami kepedihan karena sepuluh dari dua belas pohon kelapanya harus ditebang  akibat terkena listrik. Lasi hanya bisa membantu uang untuk kebutuhan Darsa selama satu tahun. Lasi dan Kanjat pulang, mereka masing-masing berpisah dipersimpangan jalan.



ANALISIS INTRINSIK
1.      Tema
Dalam novel ini, pengarang ingin mengungkapkan masalah sosial yaitu penindasan kaum bawah (miskin) dalam pembangunan. Ahmad Tohari mengungkapkan bagaimana kepasrahan kaum bawah dalam menghadapi kemiskinan.
2.      Alur
a.       Tahap Pengenalan
Tahap Pengenalan adalah tahap pengarang mulai memperkenalkan tempat kejadian cerita, waktu, tokoh-tokoh cerita dan permasalahan sebagai sumber konflik di antara tokoh-tokoh yang bertikai. Awal mula diceritakan tentang kehidupan penderas kelapa di Karangsoga. Pengarang menceritakan secara detail bentangan alam Karangsoga,  masyarakatnya daricrakyat miskin sampai tokoh Pak Tir yang menguasai penjualan kelapa di desa Karangsoga.  Salah satu penderas kelapa yang memiliki keperuntungan hidup adalah Darsa yang mendapat istri cantik yang memiliki fisik berbeda dengan wanita di desa itu. Ahmad Tohari mulai memperkenalkan satu persatu fisik tokohnya beserta perwatakannya melalui pelukisan watak tokoh langsung dan tidak langsung. Walaupun  hidup kekurangan bersama Darsa, Lasi tetap bersyukur tidak pernah mengeluh dengan keadaan pas-pasan. Gambaran kaum miskin yang selalu pasrah dan menerima dengan keadaan yang diberikan Tuhan kepadanya.
b.      Tahap Permulaan Konflik
Tahap Permulaan Konflik adalah peristiwa mulai adanya problem-problem yang ditampilkan pengarang untuk kemudian ditingkatkan mengarah pada  peningkatan konflik. Konflik ini bermula ketika Darsa kecelakaan jatuh dari pohon kelapa yang disadapnya. Konflik pertama ketika Darsa mengalami kondisi yang parah karena jatuh dari pohon kelapa sehingga dia harus dirawat di rumah  sakit yang lebih lengkap peralatannya. Lemah pucuk serta keadaan Darsa yang selalu ngompol itu membuatnya harus lebih ekstra dalam penanganan. Darsa pun mengalami psikologi yang semakin parah karena tekanan batin atas keadaan yang menimpanya. Sehingga Lasi selalu menjadi pelampiasan kekesalan dan amarahnya.
c.       Tahap Penggawatan
Konflik cerita semakin meningkat ketika kemiskinan dan kekurangan sehingga Lasi tidak mampu membayar biaya perawatan Darsa.  Lasi mengambil keputusan sesuai saran orang-orang  untuk membawa ke Bunek seorang dukun bayi. Keputusan itu  membawa hasil yang baik karena lambat laun Darsa semakin membaik keadaannya. Darsa  akhirnya  sembuh dari penyakit lemah pucuk. Keperkasaan Darsa pun segera diuji oleh Bunek. Darsa berhubungan dengan anak Bunek yang bernama Sipah. Hubungan ini justru menjadi pemicu konflik semakin meningkat karena Sipah anak Bunek yang pincang itu hamil. Bunek pun menuntut Darsa untuk menikahi Sipah anaknya.
d.      Komplikasi
Konflik semakin banyak ketika berita Sipah hamil dan Bunek menuntut Darsa untuk mengawini anaknya itu sampai kepada Lasi. Lasi marah dan tidak bisa menerima kelakuan suaminya itu. Lasi pergi dari Karangsoga dengan menumpang truk yang mengantarkan gula ke kota. Konflik semakin ruwet dan meningkat ketika Lasi tidak mau lagi kembali ke Karangsoga. Dia lebih nyaman tinggal bersama Bu Koneng di warung makan itu. Konflik terus memuncak lagi ketika dia diperkenakan kepada Bu Lanting. Lasi tidak sadar bahwa niat Bu Lanting adalah untuk menjualnya, karena Lasi merupakan aset kekayaan baginya.
e.       Klimaks
Klimaks  yaitu puncak dari kejadian-kejadian dan merupakan jawaban dari semua problem atau konflik yang tidak mungkin dapat meningkat atau  dapat lebih rumit lagi. Puncak problematika pada novel Bekisar Merah  ini ketika Lasi menerima tawaran dari Bu Lanting untuk menikah dengan seorang Ovester bernama Pak Handarbeni yang umurnya jauh lebih tua dan layak sebagai bapaknya.  Konflik batin terjadi ketika Kanjat datang menemuinya ke kota. Lasi menaruh harapan besar Kanjat mampu membawanya pergi dari rumah itu dan menikahinya. Namun, Kanjat hanya diam dan tidak bisa memperjuangkan Lasi karena Kanjat merasa dirinya tidak pantas mendapatkan Lasi. Sehingga hari berikutnya setelah pertemuannya dengan Kanjat itu dia memutuskan bersedia menikah dengan Pak Handarbeni. Pernikahannya muncul banyak konflik salah satunya adalah Pak Handarbeni ternyata sudah impoten. Sehingga Lasi merasa bahwa pernikahan yang dia jalani tidak lebih sebuah mainan saja. Seperti permainanya ketika masih kecil di desa Karangsoga bersama teman-temannya. 
f.       Tahap Peleraian
Lasiyah merasa penat sebagai seorang yang hanya tak ubahnya Bekisar Merah simpanan Pak Handarbeni yang kaya raya itu. Dia merasa ternyata kekayaan tidaklah selalu memberikan segalanya, terutama kebahagiaannya. Lasi memutuskan untuk pulang sejenak ke desa Karangsoga. Dia merindukan kedamaian dan suasana alam Karangsoga. Di desa itu Lasi menemukan sejenak ketenangan. Lamunannya kembali pada masa kecil, masa dia menjadi istri Darsa. Di desa Karangsoga Lasi membangun rumah emaknya yang semakin rapuh itu. Di sana ia juga menemui Eyang Mus. Dia berniat untuk membangun surau. Namun Eyang Mus tidak mengizinkannya dengan berbagai pertimbangan dan nasihat. Eyang Mus juga memberi nasihat kepada Lasi jika ingin memberikan bantuan yang paling berhak dibantu adalah Kanjat. Akhirnya Lasi menemui kanjat untuk membicarakan banyak hal.
g.      Tahap Penyelesaian
Pertemuan Lasi dan Kanjat tidak hanya membicarakan tentang rencana Kanjat yang ingin membantu rakyat Karangsoga. Justru Lasi menggunakan kesempatan itu kepada Kanjat untuk meminta menikahinya ketika nanti dia sudah menjadi janda. Namun Kanjat tidak menjawab apapun karena ia tahu posisi Lasi masih istri seorang ovester yang memiliki kekuasaan dan kekayaan. Mereka akhirnya memutuskan berpisah dipersimpangan jalan. Perpisahan itu masih menyisakan banyak pertanyaan apakah mereka akan bersatu atau tidak akan bersatu selamanya. Dalam hati Lasi juga masih menyisakan keraguan apakah harapannya untuk menikah dengan Kanjat akan terwujud.
3.      Tokoh dan Penokohan
a.       Lasiyah (Lasi)
Lasiyah adalah tokoh utama sekaligus tokoh protagonis dalam novel Bekisar Merah. Tokoh ini adalah tokoh yang sering kali muncul dan mendominasi cerita.  Pengarang menggunakan teknik dramatik dalam pelukisan tokoh. Lasi memiliki ciri-ciri fisik; memiliki bola mata hitam pekat, berkelopak tebal tanpa garis lipatan, kulitnya bersih, rambut hitam lurus lebat, dan memiliki badan yang indah. Kutipan yang menjelaskan ciri fisik Lasiyah, dilukiskan atau digambarkan oleh tokoh lain yaitu tokoh Darsa dan Mbok Wiryaji:
Darsa selalu berdebar bila menatap bola mata istrinya yang   hitam pekat. Seperti kulitnya, mata Lasi juga khas; berkelopak         tebal, tanpa garis lipatan. Orang kampung mengatakan mata Lasi kaput. Alisnya kuat dan agak naik pada kedua ujungnya. Seperti cina (Ahmad Tohari, 2005:11)

Dengan  mata yang sayu dipandanginya anaknya yang tetap membisu. Dalam hati mbok Wiryaji bangga akan anaknya; kulitnya bersih dengan rambut hitam lurus yang sangat lebat dan badannya lebih besar dari anak-anak sebayanya. Tungkainnya lurus dan berisi (Ahmad Tohari, 2005: 37)

Tokoh Lasi dalam Bekisar Merah memiliki watak  baik hati, istri yang berbakti. Tetapi Lasi memiliki watak negatif, yaitu watak Lasi tidak mudah memaafkan dan melupakan sakit hati. Kutipan yang menunjukkan watak baik hati Lasi adalah ketika ia harus menerima lamaran Pak Han karena dia merasa harus membalas budi atas kebaikan Bu Lanting selama ini.
Dua pilihan? Oh, tidak. Hanya satu pilihan! Tiba-tiba Lasi sadar dirinya bahwa dia berhadapan dengan hanya satu pilihan. Lasi hampir mustahil bilang “tidak”. Lasi merinding ketika menyadari dirinya telah termakan oleh sekian banyak pemberian; penampungan oleh Bu Lanting, segala pakaian, bahkan juga makan dan minum. Uang dan perhiasan. Belum lagi hadiah-haiah dari Pak Han. Lasi merasa terkepung dan terkurung oleh segala pemberian itu. Lasi terkejut dan merasa dikejar oleh aturan yang selama ini diyakini  kebenarannya. Bahwa tak ada pemberian tanpa menuntut imbalan. Dan siapa mau menerima harus mau pula memberi. “ ya ampun, ternyata diriku sudah tertimbun rapat oleh utang kabecikan, utang, utang budi, atau apalah namanya. Bila aku masih punya muka, aku harus menuruti kemauan Bu Lanting untuk  membayar lagi utang itu. Aku tak mungkin menampik Pak Han. Tak mungkin?” (Ahmad Tohari, 2005: 203).

Watak negatif tokoh Lasi adalah tidak mudah memaafkan dan pendendam dilukiskan dengan cerita atau secara deskripsi narasi. Kutipan yang menjelaskan watak negatif tokoh Lasi sebagai berikut.
Dalam  kamarnya Lasi duduk dengan pandangan mata kosong. Lasi masih tercekam oleh pengalaman digoda anak-anak sebayanya. Meskipun godaan anak nakal hampir terjadi setiap hari, Lasi tak pernah mudah melupakannya. Bahkan ada pertanyaan yang mengembang dalam hati; mengapa anak-anak perempuan lain tidak mengalami hal sama? Mengapa namanya selalu dilencengkan menjadi Lasipang? Dan apa orang jepang? (Ahmad Tohari, 2005: 34). 

Selain itu  watak Lasi yang negatif adalah mudah mengeluh, kutipan yang menunjukkan watak Lasi sebagai berikut.
Di rumah, Lasi menyiapkan tungku dan kawah untuk mengolah nira yang sedang diambil suaminya. Senja mulai meremang. Setumpuk kayu bakar diambilnya dari tempat penyimpanan di belakang tungku. Sebuah ayakan bambu disiapkan untuk menyaring nira. Pada musim hujan Lasi sering mengeluh karena jarang tersedia kayu bakar yang benar-benar kering. Mengolah nira dengan kayu setengah basah sungguh menyiksa. Bahkan bila tak untung, gula tak bisa dicetak karena pengolahan yang tak sempurna (Ahmad Tohari, 2005: 16-17).

b.      Darsa
Tokoh Darsa adalah tokoh antagonis karena tokoh ini yang menyebabkan konflik dalam batin tokoh utama (Lasi). Tokoh ini yang pada mulanya memunculkan konflik dalam cerita. Sisi positif watak Tokoh Darsa memiliki semangat bekerja yang tinggi. Kutipan yang menunjukkan psikis dari Darsa yang memiliki semangat yang tinggi dalam bekerja sebagai berikut.
Meski punya pengalaman pahit terbanting dari ketinggian puncak kelapa, semangat Darsa tetap tinggi, tak terlihat kesan khawatir akan jatuh buat kali kedua. Di Karangsoga belum pernah terdengar cerita seorang penyadap jera karena jatuh…. (Ahmad Tohari, 2005: 68).

Dari kutipan di atas jelas bahwa Darsa tetap semangat dalam keadaan sakit. Bahkan pada akhir cerita dilukiskan kembali watak Darsa yang memliki jiwa semangat. Kemiskinan yang dilami, bahkan saat listrik-listrik masuk desa Karangsoga dan hampir seluruh pohon-pohon kelapa Darsa terkena aliran listrik dan harus ditebang. Dia tetap memperlihatkan semangatnya sebagai seorang penderas  kelapa, walaupun hanya tinggal tiga pohon saja.

c.       Pak Handarbeni
Tokoh Pak Handarbeni atau sering disebut Pak Han ini merupakan tokoh antagonis juga, karena tokoh ini menyebabkan konflik batin pada diri tokoh utama (Lasi). Tokoh ini yang kemudian membuat tokoh utama mengalami konflik batin. Keegoisan sifat dari Pak Han ini yang mendominasi penyebab konflik batin antara Lasi dan Pak Handarbeni.Tokoh Pak Han dijelaskan dimensi fisik dan psikisnya. Ciri fisiknya adalah tubuhnya bundar, wajahnya gemuk, tengkuk, dagunya tebal, dan hidungnya gemuk. Kutipan yang menunjukkan ciri fisik Pak Han dilukiskan melalui deskripsi  sebagai berikut.
……Hal pertama yang tekesan oleh Lasi adalah cincin emas besar dengan batu yang berwarna biru melingkar dijarinya. Jam tangannya pun kuning emas. Lalu tubuhnya yang  bundar tampa pinggang dan perutnya yang menjorok ke depan. Wajahnya yang gemuk hampir membentuk bulatan. Tengkuk dan dagunya tebal. Hidungnya gemuk dan berminyak. Lasi juga mencium wewangian yang dikenakan tamu itu (Ahmad Tohari, 2005: 181). 

d.      Kanjat
Tokoh Kanjat merupakan tokoh tritagonis, kedudukan tokoh Kanjat ini sebagai penengah konflik. Tokoh Kanjat sebagai pelerai konflik yang terjadi pada tokoh utama yaitu Lasi. Kanjat sejak kecil dilukiskan sebagai orang yang memiliki watak yang baik dan selalu membela Lasi, bahkan menjadi teman ketika Lasi diasingkan oleh anak-anak yang lain.  Tokoh Kanjat saat dewasa dilukiskan sebagai tokoh yang tetap mencintai Lasi walaupun dia seorang janda. Kehadiran tokoh Kanjat sanagat berperan penting ketika terjadi adanya konflik pada tokoh utama. Tokoh Kanjat dari kecil hingga dewasa dilukiskan memiliki watak yang baik, suka menolong, dan kepedulian tinggi kepada sesama. Kutipan yang menunujukkan watak tokoh Kanjat sebagai berikut.
“Las, aku tidak ikut nakal, “ujar Kanjat yang tubuhnya lebih kecil karena usianya dua tahun lebih muda. “Kamu tidak marah padaku, bukan?” (Ahmad Tohari, 2005: 33)

Semua kenyataan yang ditemukan Kanjat dalam penelitian mengangkat laten keprihatinan terhadap kehidupan para penyadap ke permukaan kesadarannya. Keprihatinan bahkan keterpihakan. Dengan demikian Kanjat sesungguhnya menyadari penyusunan skripsi yang dilakukannya mempunyai kesadaran subjektivitas, setidaknya pada tingkat motivasinya… (Ahmad Tohari, 2005: 125).

e.       Mbok Wiryaji
Tokoh Mbok Wiryaji merupakan tokoh tambahan  yang fungsinya sebagai pendukung tokoh utama. Tokoh Mbok Wiryaji adalah ibu Lasiyah yang digambarkan sebagai sosok yang sabar dan ikhlas dalam menghadapi kehidupan.  Kutipan yang menunjukkan watak sabar dari tokoh Mbok Wiryaji sebagai berikut.

Sesungguhnya Mbok Wiryaji sudah bertekad menanggung sendiri kesusahan itu. Tak perlu orang lain, apalagi Lasi, ikut menderita. Namun orang Karangsoga gemar bergunjing sehingga Lasi mendengar rahasia yang ingin disembunyikannya… (Ahmad Tohari, 2005: 36).

Kutipan di atas membuktikan bahwa tokoh Mbok Wiryaji ikhlas dan sabar mengahadapi hujatan orang desa yang memiliki pandangan bahwa perkawinan campuran menurut orang Jawa merupakan perbuatan yang tercela. Kesabaran semakin ditunjukkan tokoh Mbok Wiryaji ini yang selalu diam dan tidak banyak menceritakan masa lalunya kepada anaknya. Sedangkan watak tokoh yang menunjukkan watak ikhlas ditunjukkan dalam kutipan di bawah ini.

“as, mereka tahu apa dan siapa kamu sebenarnya. Tetapi aku tak tahu mengapa mereka lebih suka cerita palsu, barangkali untuk menyakiti aku dan kamu. Sudahlah, Las, biarkan mereka. Kita sebaiknya  nrima saja. Kata orang, nrima ngalah luhur wekasane, orang yang mengalah akan dihormati pada akhirnya” (Ahmad Tohari, 2005: 40).

f.       Wiryaji
Tokoh Wiryaji merupakan tokoh tambahan yang fungsinya sebagai pendukung tokoh utama. Tokoh Wiryaji memiliki watak  sabar dan pasrah. Kutipan yang menunjukkan psikis Wiyaji sebagai berikut.
“Rasanya kami sudah berusaha semampu kami,” ujar Wiryaji mencairkan kebisuan. “utang sudah kami gali dan tentu tak akan mudah bagi kami mengembalikannya. Bila usaha kami ternyata tak cukup untuk menyembuhkan Darsa, kami sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi. Kami tinggal pasrah” (Ahmad Tohari, 2005: 52).

g.      Eyang Mus
Tokoh Eyang Mus sebagai tokoh tritagonis sebagai pelerai dan peredam konflik yang terjadi dalam cerita  Bekisar Merah.  Tokoh  Eyang Mus memiliki fungsi penengah konflik yang terjadi. Melalui tokoh Eyang Mus ini juga, pengarang berusaha menyampaikan nilai-nilai pendidikan kususnya nilai pendidikan agama dan budaya. Watak   yang  dimiliki oleh Eyang Mus antara lain; penyabar, bijaksana, berhati-hati dalam mengambil sebuah keputusan, serta percaya akan kuasa Tuhan dan takdir hidup. Kutipan yang menunjukkan watak dari tokoh Eyang Mus yang sabar dan berhati-hati dalam mengambil keputusan ditunjukkan melalui dialog tokohnya sebagai berikut.
“Sabar. Dari dulu aku selalu ikut menanggung kesulitan yang kalian hadapi. Sekarang aku juga ikut menyalahkan Darsa. Memang,  wong lanang  punya wenang. Tetapi sesekali tak boleh sewenang-wenang. Jelas Darsa salah. Namun aku minta jangan dulu bicara soal perceraian” (Ahmad Tohari, 2005: 76).

Kutipan di atas membuktikan watak Eyang Mus yang penyabar ternyata bermanfaat sebagai pelerai konflik yang terjadi. Kemunculan tokoh Eyang Mus sebagai penasehat ketika terjadi konflik di Karangsoga.  Kutipan di atas juga menjenegaskan bawa, tokoh tritagonis ini memiliki fungsi penting penyampaian amanat pengarang tentang nasihat kehidupan. Watak tokoh Eyang Mus yang percaya akan kuasa Tuhan dan  takdir hidup ada ditangan Tuhan. Kutipan yang menunjukkan watak tersebut sebagai berikut ini. 
“Bila kamu percaya segala kebaikan datang dari Gusti dan yang sulit-sulit datang dari dirimu sendiri, hanya kepada Gusti pula kamu harus meminta  pertolongan untuk mendapat jalan keluar. Jadi, lakukan pertobatan lalu berdoa dan berdoa. Bila masih ada jodoh, takkan Lasi lepas dari tanganmu. Percayalah” (Ahmad Tohari, 2005: 118).

Kutipan di atas menunjukkan menunjukkan watak Eyang Mus sebagai tokoh tritagonis penengah konflik. Watak tersebut juga menguatkan bukti bahwa pengarang, melalui tokoh Eyang Mus ingin menyampaikan pesan tentang nilai-nilai pendidikan, kususnya nilai-nilai pendidikan agama. Watak itu juga menunjukkan fungsi tokoh tritagonis sebagai penengah konflik yang terjadi pada tokoh-tokoh yang lain, baik tokoh utama maupun tokoh tambahan.

h.      Pak Tir
Tokoh Pak Tir merupakan tokoh tambahan. Tokoh Pak Tir memiliki ciri fisik; gemuk, kepala bulat. Pelukisan ciri fisik tokoh Pak Tir secara dramatik melalui pelukisan langsung. Sedangkan dimensi psikis tokoh Pak Tir adalah orang yang mudah tersinggung dan memiliki ambisi besar untuk meraih harta. Kutipan yang menunjukkan dimensi fisik dan psikis sebagai berikut.
Pak Tir sendiri sibuk dengan batang timbangan. Lelaki gemuk dengan kepala bulat yang mulai botak itu bekerja cepat dan mekanis. Tangannya selalu tangkas dalam  memainkan batang timbangan, menangkapnya pada saat yang tepat, yaitu ketika batang kuningan itu mulai bergerak naik. Keterampilan seperti itu akan memberikan keuntungan persekian ons gula sekali timbang. Maka Pak Tir kadang tersinggung apabila ada orang yang terlalu  saksama memperhatikan caranya menimbang gula. Pembayaran gula pun dilakukan Pak Tir dengan gampang dan dingin (Ahmad Tohari, 2005: 70).
i.        Bunek
Tokoh Bunek merupakan tokoh tambahan yang mendukung tokoh utama. Tokoh ini mempengaruhi konflik yang muncul dalam cerita.  Tokoh Bunek dijelaskan ciri fisik dan psikisnya. Ciri fisiknya tinggi, wajah bulat panjang, kulitnya lembut, dan rambutnya lebat. Pelukisan ciri Bunek melalui pelukisan langsung. Kutipan yang menunjukkan fisik tokoh Bunek sebagai berikut.
Orang bilang ciri paling nyata pada diri Bunek adalah cara jalannya jalannya yang cepat. Cekat-ceket. Langkahnya panjang dan ayunan tangannya jauh, mungkin karena Bunek biasa tergesa bila berjalan memenuhi panggilan perempuan yang sedang menunggu detik kelahiran bayinnya... namun ciri yang lainnya pun tak kalah mencolok. Bunek selalu kelihatan paling tinggi bila berada di antara perempuan-perempuan lain. Tawanya mudah ruah, juga latahnya. Pada saat latah, ucapan yang paling cabul sekalipun dengan mudah meluncur dari mulutnya. Namun dalam keadaan biasa pun Bunek biasa berkata mesum seringan ia menyebut sirih yang selalu dikunyahnya.  Wajah Bunek bulat panjang dan semua orang percaya ia cantik ketika masih muda. Kulitnya malah masih lembut meskipun Bunek sudah punya beberapa cucu. Rambutnya yang paling lebat mulai beruban tetapi Bunek rajin menyisirnya sehingga menambah kesannya yang rapi dan singset. Ia selalu ingin bergerak cepat (Ahmad Tohari, 2005: 62).

Sedangkan watak Bunek dijelaskan bahwa dia tokoh yang licik, menghalalkan segala cara untuk mencapai sebuah tujuan hidupnya. Watak yang demikina membuat munculnya konflik dalam cerita. Watak licik tokoh ini ditunjukkan melalui dialog tokoh. Kutipan yang menunjukkan watak Bunek sebagai berikut.                Darsa sesudah kutolong mengembalikan kelelakiannya. Sebagai                        imbalan aku balik minta tolong. Permintaanku sangat sederhana, enak                     pula melaksanakannya; kawini Sipah. Kalian tahu, menunggu sampai                       orang  melamarnya,  repot. Apa kalian mau mengawini anakku yang                        pincang itu? He-he-he” (Ahmad Tohari, 2005: 79).

Kutipan di atas menjelaskan watak licik Bunek. Dia menghalalkan segala cara supaya Sipah mendapatkan jodoh. Bunek sadar bahwa anaknya yang cacat itu susah sekali mendapatkan suami. Maka, dengan cara licik ia memanfaatkan kelemahan Darsa. Kelicikan dan perbuatan Bunek inilah yang kemudian membuat konflik semakin ruwet.

j.        Mukri
Tokoh Mukri merupakan tokoh tambahan. Watak Mukri; penolong, pekerja keras. Kutipan yang menunjukkan psikis Mukri yang suka menolong dan pekerja keras sebagai berikut.
“Aku tidak lupa apa yang semestinya kulakukan. Melihat ada kodok lompat. Aku kemudian melepas celana yang kupakai sampai telanjang bulat. Aku menari menirukan monyet sambil mengelilingi kodok lompat itu” (Ahmad Tohari, 2005: 21-22).

Selain itu, Mukri juga memiliki watak yang gigih bekerja. Sebagai seorang pemuda desa ia menunjukkan kegigihannya dalam bekerja.  Kutipan yang menunjukkan sebagai berikut.
“Ya. Tetapi aku harus pergi dulu. Pekerjaanku belum selesai.”  “Sudah malam begini kamu mau meneruskan pekerjaanmu?”  Pertanyaan itu berlalu berlalu tanpa jawab. Mukri lenyap dalam kegelapan meski langkahnya masih terdengar untuk beberapa saat. Kini perhatian semua orang sepenuhnya tertuju kepada Darsa (Ahmad Tohari, 2005:22).

k.      Pardi
Tokoh Pardi merupakan tokoh tambahan. Tokoh yang berfungsi mendukung tokoh utama. Tokoh Pardi dalam novel ini digambarkan memiliki psikis yang suka menolong dan bertanggung jawab. Kutipan yang menunjukkan watak dari tokoh Pardi sebagai berikut.
…..Tetapi kesempatan itu digunakannya juga untuk titip pesan bagi orangtua Lasi kepada  pemilik warung. Bagaimana juga Pardi ingin membersihkan diri sebab  sebentar lagi pasti ada geger; Lasi raib dari Karangsoga (Ahmad Tohari, 2005: 82-83).

Watak Pardi selain bertanggung jawab, dia juga suka menolong, sikap tersebut ditunjukkan ketika dia menolong Lasi.  Kebaikan yang ditunjukkan oleh Pardi benar-benar tulus untuk menolong Lasi yang sedang dalam kesusahan. Pardi tidak sama sekali meminta imbalan kepada Pardi. Kutipan yang menunjukkan sebagai berikut.
“Terima kasih, Mas Pardi, aku memang tidak memegang uang. Dan uang ini aku terima sebagai pinjaman. Kapan-kapan aku akan mengembalikannya padamu “. “Jangan begitu, Las. Kita sama-sama di rantau, jauh dari kampung. Kita harus saling tolong” (Ahmad Tohari, 2005: 93).

l.        Bu Koneng
Tokoh Bu Koneng merupakan tokoh tambahan. Tokoh Bu Koneng adalah tokoh yang memiliki watak licik dan mau melakukan segala hal untuk meraih kepentingannya. Tokoh Bu Koneng ini dituangkan secara baik. Cara yang digunakan Bu Koneng yaitu dengan memberikan tempat tinggal, pakaian, makanan, dan sikap keibuan. Namun, dibalik sikap itu sebenrnya terkandung niat yang ingin mendapatkan keuntungan demi dirinya sendiri. Kutipan yang menunjukkan watak dari tokoh Bu Koneng sebagai berikut.
Seorang teman yang mau mengerti dan bisa menjadi bejana tempat menuangkan perasaan telah ditemukan Lasi. Degan anggukan kepala dan senyum penuh  pengertian Bu Koneng, dengan cara yang sangat diperhitungkan, menjadikan dirinya sandaran bagi hati Lasi yang kena badai…. (Ahmad Tohari, 2005: 97).


m.    Bu Lanting
Tokoh Bu Lanting merupakan tokoh tambahan.  Tokoh Bu Lanting memiliki watak licik, kebaikan  yang dia berikan tidak tulus dan cenderung mementingkan keinginannya sendiri atau egois. Kutipan yang menunjukkan spikis Bu Lanting sebagai berikut.
Dua pilihan? Oh, tidak. Hanya satu pilihan! Tiba-tiba Lasi sadar dirinya bahwa dia berhadapan dengan hanya satu pilihan. Lasi hampir mustahil bilang “tidak”. Lasi merinding ketika menyadari dirinya telah termakan oleh sekian banyak pemberian; penampungan oleh Bu Lanting, segala pakaian, bahkan juga makan dan minum. Uang dan perhiasan. Belum lagi hadiah-haiah dari Pak Han. Lasi merasa terkepung dan terkurung oleh segala pemberian itu. Lasi terkejut dan merasa dikejar oleh aturan yang selama ini diyakini kebenarannya. Bahwa tak ada pemberian tanpa menuntut imbalan. Dan siapa mau menerima harus mau pula memberi. “  ya ampun, ternyata diriku sudah tertimbun rapat oleh utang kabecikan, utang, utang budi, atau apalah namanya. Bila aku masih punya muka, aku harus menuruti kemauan Bu Lanting untuk membayar lagi utang itu. Aku tak mungkin menampik Pak Han. Tak mungkin?” (Ahmad Tohari, 2005: 203).

n.      Si Anting Besar
Tokoh ini memiliki watak yang iri. Watak yang demikian ditunjukkannya ketika Lasi datang ke warung bu Koneng, dia merasa bahwa Lasi akan menjadi saingannya.  Kutipan yang menunjukkan watak tokoh Si Anting Besar sebagai berikut. 
Selesai mandi Lasi keluar dengan kain sarung dan kebaya biru terang. Kesan lusuh berubah menjadi segar. Kulitnya menjadi lebih terang karena warna baju yang dipakainnya. Rambut disisir dan dikonde seadanya, asal rapi. Bu Koneng mengajaknya makan pagi, bukan diruang warung melainkan di ruang dalam. Lasi tak enak karena merasa terlalu diperhatikan, tetapi tak mampu menampik kebaikan Bu Koneng. Si Betis Kering dan Si Anting Besar selalu mencuri-curi pandang. Tiga perempuan muda yang tergolek berimpitan pun sudah lama terbangun. Mereka juga selalu mentap Lasi dengan pandangan mata seorang pesaing (Ahmad Tohari, 2005: 94). 

o.      Si Betis Kering
Tokoh ini  juga memiliki watak yang iri sama seperti tokoh  Si Anting Besar. Watak yang demikian ditunjukkan ketika Lasi datang ke warung bu Koneng, dia merasa bahwa Lasi akan menjadi saingannya.   Kutipan yang menunjukkan watak  tokoh sebagai berikut.
Selesai mandi Lasi keluar dengan kain sarung dan kebaya biru terang. Kesan lusuh berubah menjadi segar. Kulitnya menjadi lebih terang karena warna baju yang dipakainnya. Rambut disisir dan dikonde seadanya, asal rapi. Bu Koneng mengajaknya makan pagi, bukan diruang warung melainkan di ruang dalam. Lasi tak enak karena merasa terlalu diperhatikan, tetapi tak mampu menampik kebaikan Bu Koneng. Si Betis Kering dan Si Anting Besar selalu mencuri-curi pandang. Tiga perempuan muda yang tergolek berimpitan pun sudah lama terbangun. Mereka juga selalu mentap Lasi dengan pandangan mata seorang pesaing (Ahmad Tohari, 2005: 94).
p.      Sapon
Tokoh Sapon pada novel Bekisar merah adalah orang desa pengangkut gula ke kota. Tokoh ini merupakan tokoh tambahan.  Dia memiliki  watak tanggung jawab. Watak itu terlihat ketika Sapon membujuk Lasi untuk kembali ke Karangsoga bersamanya dan Pardi. Kutipan yang menunjukkan watak Sapon sebagai berikut.
“Jangan, Las. Kamu jangan merepotkan kami. Kamu harus pulang. Bila tidak, aku dan Mas Pardi bisa mendapat kesulitan. Kami bisa menjadi sasaran segala macam pertanyaan” (Ahmad Tohari 2005: 98).

Sapon merasa bertanggung jawab terhadap Lasi karena ia yang mengijinkan Lasi ikut bersamnya. Sapon juga bertanggug jawab kepada penduduk dan masih menjunjung tinggi adat sopan santun. 
4.      Setting 
Setting berkaitan dengan  pengadegan, latar belakang, waktu cerita, dan waktu  penceritaan. Pengadeganan artinya penyusunan adegan-adegan di dalam cerita. Tidak semua kejadian dalam kehidupan sang tokoh dilukiskan di dalam adegan-adegan. Adegan dipilih yang benar-benar mewakili cerita. Adegan bisa di dalam rumah dan dapat juga di luar rumah.
a.       Setting Waktu
Novel Bekisar Merah telah banyak menampakkan  waktu yang jelas dan spesifik. Setting pedesaan yang digambarkan dalam  Bekisar Merah  adalah  setting  tahun  1970-an yang mulai sibuk dengan pembangunan. Novel  Bekisar Merah merupakan karya Ahmad Tohari yang dapat digolongkan sebagai novel berwarna korupsi. Sedangkan  setting  yang terkait dengan waktu terlihat pada kutipan berikut ini yaitu menyebutkan hitungan tahun. Kutipan yang menunjukkan sebagai berikut.
“Oalah, Las, Emak tidak bohong. Dengarlah. Kamu lahir  tiga tahun sesudah peristiwa cabul  yang amat kubenci itu. Entah bagaimana setelah  tiga tahun menghilang orang jepang itu muncul lagi di Karangsoga. Kedatangannya yang ke dua tidak lagi bersama bala tentara Jepang melainkan bersama para pemuda gerilya. Tampaknya ayahmu menjadi pelatih para pemuda. Dan mereka, para pemuda itu, juga Eyang Mus meminta aku memaafkan ayahmu, bahkan aku diminta juga menerima lamarannya” (Ahmad Tohari, 2005: 39).

Dalam novel Bekisar Merah selain menunjukkan hitungan tahun, juga menunjukkan setting waktu berupa hari. Situasi pagi, siang, sore, dan malam. Kutipan yang menunjukkan sebagai berikut.
Pagi ini lasi berangkat hendak menjenguk Darsa di rumah sakit kecil di kota kewedahan itu…. (Ahmad Tohari, 2005:45).

Selain itu, setting waktu ditunjukkan dengan angka jam. Kutipan yang menunjukkan sebagai berikut
Jam tujuh malam Handarbeni muncul di rumah Bu Lanting. Necis dengan baju kaus kuning muda dan celana hijau tua. Wajahnya cerah dengan senyum renyah dan sorot mata penuh kegembiraan. Rambutnya, meskipun sudah menipis, tersisir rapi dan hitam oleh semir baru. Handarbeni sudah  tahu bekisar itu mau, atau setidaknya tidak menolak menjadi miliknya dari pembicaraan telepon dengan Bu Lanting tadi siang. Kini Handarbeni datangkarena ingin berbicara sendiri dengan bekisarnya (Ahmad Tohari, 2005: 212).
b.      Setting Tempat
Setting tempat adalah tempat cerita. Setting cerita dalam novel Bekisar Merah ini lebih banyak di  daerah pedesaan, warung, pasar, dan kota. Ahmad  Tohari dalam Novel Bekisar Merah ini  lebih banyak atau dominan melukiskan latar tempat yang dilukiskan secara indah. Hal itu terlihat pada kutipan berikut:
Karangsoga adalah sebuah desa di kaki pegunungan vulkanik. Sisa-sisa kegiatan gunung api masih tampak pada ciri desa itu berupa bukit-bukit berlereng curam, lembah-lembah atau jurang-jurang dalam yang tertutup berbagai jenis pakis dan paku-pakuan. Tanahnya yang hitam dan berhumus tebal mampu menyimpan air sehinggasungai-sungai kecil berbatu-batuan dan parit-parit alam gemercik sepanjang tahun…. (Ahmad Tohari, 2005: 25).
Tidak hanya tempat berupa desa, namun novel ini juga menjelaskan secara jelas kehidupan kota, cerita ketika Lasi pergi dari Karangsoga menuju kota Jakarta. Kutipan yang menunjukkan setting tempat sebagai berikut.
Sapon membawa Lasi masuk warung makan yang cukup besar itu dan langsung ke bagian belakang. Lampu pompa belum dipadamkan, padahal hari sudah terang benderang…. (Ahmad Tohari, 2005: 90).

Setting  tempat sebuah kota juga ditunjukkan oleh novel ini. Tempat-tempat ini menunjukkan kehidupan kota dan aktivitas orang-orangnya. Kutipan yang menunjukkan sebagai berikut.
Bu Lanting makin sering mengajak Lasi keluar makan-makan di lestoran, belanja dipasarnya, atau berajangsana ke rumah teman. Atau menghadiri resepsi perkawinan di gedung pertemuan yang megah (Ahmad Tohari, 2005: 166). 

Setting  tempat berupa sebuah kota Jakarta dijelaskan di sini, kutipan yang menunjukkan sebagai berikut. 
Lasi datang dari  Jakarta membawa sedan, itulah celoteh terbaru yang segera merambat ke semua sudut Karangsoga. Dan cerita pun menuruti kebiasaan di sana, berkembang tak terkendali ke segala arah… (Ahmad Tohari, 2005: 241). 
5.      Sudut Pandang
Sudut pandang cerita mengacu pada cara sebuah cerita dikisahkan. Sudut pandang merupakan cara atau pandangan yang digunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan tokoh, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam karya fiksi kepada pembaca.  Sudut pandang pada hakikatnya merupakan strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih oleh pengarang untuk mengemukakan gagasan ceritanya.
Sudut pandang yang digunakan pada novel Bekisar Merah yaitu pesona atau gaya “dia”, pengarang atau narator berada di luar cerita. Pengarang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama, atau kata gantinya. Nama tokoh, dan tokoh utama selalu disebut termasuk variasi kata gantinya. Sudut pandang yang paling menonjol dalam novel Bekisar Merah, menggunakan cara ini. Berikut ini kutipan yang menunjukkan sudut pandang tersebut.
Lasi  tak meneruskan kata-katanya karena tiba-tiba suasana berubah. Darsa  memandang Lasi dengan mata berkilat. Keduanya beradu senyum lagi. Darsa selalu berdebar bila menatap bola mata istrinya yang hitam pekat. Seperti kulitnya, mata  Lasi juga khas; berkelopak tebal, tanpa garis lipatan. Orang bilang mata Lasi kaput…….. (Ahmad Tohari, 2005: 11).

Handarbeni benar-benar kehilangan kelelakiannya meski obat-obatan telah diminumnya. Untuk menutup kekecewaan  Lasi akibat kegagalan semacam biasanya Handarbeni mengobral janji membelikan ini itu dan keesokan harinya semuanya akan  ternyata bernas. Tetapi malam itu Handarbeni tak memberi janji apa pun melainkan sebuah tawaran yang membuat Lasi merasa sangat terpojok, bahkan terhina (Ahmad Tohari, 2005: 267).


ANALISIS UNSUR EKSTRINSIK

1.      Nilai Pendidikan Sosial
Kehidupan masyarakat Karangsoga masih menjunjung tinggi kebersamaan dan tolong menolong. Kehidupan yang selalu bahu membahu dalam keadaan sulit. Kehidupan ini bisa dilihat ketika Darsa jatuh dari pohon kelapa dan masyarakat ikut andil memberikan pertolongan pertama. Kutipan yang menunjukkan pendidikan sosial sebagai berikut.
Orang-orang perempuan mengurus Darsa dan Lasi. Celana pendek Darsa yang basah dilepas dengan hati-hati. Ada yang memaksa Darsa menenggak telur ayam mentah. Mereka lega setelah menemukan tubuh Darsa nyaris tanpa cedera kecuali beberapa luka  goresan  pada tangan dan punggung......(Ahmad Tohari, 2005: 21).


2.      Nilai Pendidikan Budaya
Pendidikan budaya pada novel Bekisar Merah ini dirunjukkan melalui nasihat-nasihat yang berupa bahasa Jawa. Memiliki makna mendalam tentang hakikat kehidupan dan tanggung jawab terhadap kehidupan tersebut. Menuangkan bagaimana sikap seorang manusia yang hidup dengan kebudayaan orang Jawa. Kutipan yang menyatakan nilai-nilai pendidikan budaya sebagai berikut.
” Andai aku jadi kamu aku akan mengambil sikap  nrima salah, bersikap taat atas asas sebagai orang yang bersalah. Inilah cara yang paling baik untuk mengurangi beban jiwa dan mempermudah penemuan jalan keluar...(Ahmad Tohari, 2005: 116).
Kutipan di atas merupakan nilai pendidikan budaya Jawa karena saat Eyang Mus menasehati Darsa, menggunakan istilah Jawa yaitu ”Nrimo salah” .  Nilai pendidikan di atas menjelaskan bahwa, dalam kehidupan hendaknya  bersikap mau menerima kesalahan. Dengan rasa ikhlas menerima kenyataan maka hati akan tenang sehingga dapat menemukan jalan keluar.




TINGKAT PENGALAMAN JIWA
Pada novel ini, tingkat pengalaman jiwa sudah sampai pada tahap religius yaitu tahap seseorang mempunyai hubungan vertical terhadap Sang Pencipta. Kutipan yang menunjukkan hal tersebut adalah sebagai berikut.
” Ya. Ikhtiar harus tetap di jalankan. Juga doa. Dulu kamu sendiri bilang, bila hendak memberikan welas-asih, Gusti Allah tidak kurang cara.  Tetapi mengapa sekarang kamu jadi berputus asa? Kamu tak lagi percaya bahwa Gusti Allah ora sare, tetap jaga untuk menerima segala doa?” (Ahmad Tohari, 2005: 60).

Kutipan di atas menjelaskan bahwa Tuhan itu sebenarnya tidak tidur. Selain kutipan di atas, terdapat bukti lain yaitu sebagai berikut.
Lasi terus bekerja mengendalikan api. Nira dalam kawah menggelegak seperti mengimbangi semangat yang tiba-tiba mengembang di hati Lasi. Asap mengepul dan bergulung naik ke udara. Bau nira yang mulai memerah tercium lebih harum.  Oh, betul Gusti Allah ora sare, bisik Lasi untuk diri sendiri. Akhirnya Kang Darsa sembuh karena  welas asihNya. Orang yang senang menyebutku  radha magel, janda kepalang tanggung, boleh menutup mulut, emak yang selalu menyebut-nyebut nama Pak Sambeng juga boleh menutup mulut. Lasi mengembuskan napas lega. Air matanya menggenang (Ahmad Tohari, 2005: 67-68).