Pelangi Asa
Oleh Ulfa Fakhiyatul Ailia
Alarm ku berdering memecah kesunyian pagi
hari. Ku gayuh dengan cepat, lalu ku matikan. Rasanya masih enggan menyibak
selimut dan beranjak dari tempat tidur. Ku coba untuk menutup mata, melanjutkan
mimpi yang kurasa belum selesai. Saat tubuh hampir terlelap, suara adzan subuh
terdengar dari surau sebrang. Keras memang, namun terasa menyejukkan hati.
Tanpa ragu, ku bergegas untuk membasuh diri dan berwudhu. Ku langkahkan kaki
menuju perahu gethek untuk menuju surau. Udara segar yang ku hirup,
pemandangan sungai Kapuas yang masih indah dan langkah kaki yang terasa ringan,
ku anggap sebagai anugrah Tuhan yang luar biasa yang tidak boleh untuk ku
sia-siakan. Sambil ku lantunkan dzikir, tak terasa aku sampai di sebuah dermaga
kecil sebelah kampung. Ku naiki gethek perlahan. Hanya ada dua orang
penumpang yang ternyata tujuannya sama denganku. Lima menit kemudian, aku
sampai di surau. Sebuah surau yang menurutku besar, namun sepi karena jarang
disinggahi. Karena rata-rata mereka tak sempat menunaikan kewajiban di surau
karena sibuk akan dagangan masing-masing. Maklum, sebagian besar warga
menyambung hidup di pasar apung.
Kewajibanku di
pagi hari telah selesai. Kembali aku menaiki gethek untuk bisa pulang ke
rumah. Sesampai di rumah, aku bersiap untuk kerja. Sesampai di sekolah tempatku
mengajar, sambutan murid-murid sopan nan lugu menyambutku. Senyum mereka
merupakan sebuah semangatku. Pukul 07.00 bel sekolah bordering. Ku jalankan
kewajiban profesiku yaitu menyalurkan ilmu yang ku peroleh waktu duduk di
bangku kuliah. Waktu berjalan begitu cepat. Kumandang adzan dhuhur dari surau
sekolah menggugah hatiku untuk kembali menunaikan kewajibanku. Selesai
menjalankan, aku kembali bersama murid-murid di kelas. Tak berapa lama, bel
pulang berdering. Anak-anak bergegas meninggalkan ruangan satu per satu. Aku
kembali menuju ruang guru.
“Bu Nada, hari
ini ada rapat mendadak pembahasan dana BOS, sudah mendapat informasikah?” Pak
Raihan menanyaiku.
“Benarkah? Belum sama sekali Pak” jawabku kaget
“Oh mungkin sms saya tak masuk,”
“Mungkin. Semalam memang ada gangguan jaringan”
“Ya sudah, mari ke ruang kepala sekolah”
Ku anggukkan kepalaku tanpa sepatah katapun. Entah kenapa setiap
bertemu Pak Raihan hati terasa sejuk. Teduh wajahnya membuatku melamunkan masa
depan. Ah, itu hanya anganku saja. Tak mungkin Pak Raihan meminangku. Rapat
berjalan begitu alot. Adzan asar berkumandang dari surau seberang. Duh, tak
mungkin aku ijin untuk menjalankan kewajiban. Maklum, kepala sekolah bukanlah
orang yang mudah diajak musyawarah. Terlebih, beliau orang yang sensitif dan
ingin selalu diperhatikan. Keputusannya tidak dapat diganggu gugat meski para
dewan guru berfikir itu tidak rasional. Huh, jaman sekarang, jabatan
mengalahkan segalanya. Hatiku
berkecamuk. Bisakah aku menjalankan kewajibanku tepat waktu? Tuhan, apa yang
harus aku lakukan. Pak Raihan juga nampak gelisah. Dia memang sosok muslim
sejati yang pernah ku kenal. Waktu sudah menunjuk pukul 16.45. Rapat belum juga
selesai. Akhirnya ku beranikan diri untuk menyela pembicaraan kepala sekolah.
“Maaf Pak, mohon ijin untuk solat”
“Solat kan bisa nanti, ini lebih penting Bu Nada!!” bentak kepala
sekolah terhadapku.
“Tidak ada yang lebih penting dari panggilan Tuhan Pak, kelonggaran
yang diberikan Tuhan hampir habis Pak,!”
“Apa bapak mau menanggung dosa kami?” Pak Raihan menimpali.
“Cukup! Karena kalian berdua telah mengganggu kelancaran rapat ini,
saya pecat sepihak!”
Hati ku bagai tersambar petir. Aku dan Pak Raihan segera
meninggalkan ruang rapat. Tak terasa air mataku meleleh. Pak Raihan berusaha
menenangkanku.
“Sudahlah Bu Nada, Tuhan maha tahu akan kejadian yang selanjutnya.
Kita hanya bisa berusaha, Tuhanlah penentu takdir” kata Pak Raihan menenangkan
hatiku.
Hanya anggukan yang ku berikan. Kami berdua menuju surau sekolah
untuk menjalankan kewajiban, lalu pulang ke rumah masing-masing.
Tak berapa lama
sampai rumah, adzan maghrib berkumandang. Aku enggan menuju surau. Dalam hati
ku mengklaim mengapa Tuhan tidak adil? Aku yang setiap hari menjalankan
kewajibanku, kini kehilangan pekerjaan yang sangat kucintai. Tuhan jahat. Apa
yang ahrus aku lakukan? bagaimana aku menghidupi diriku sendiri di tanah
kelahiran orang?. Tak mungkin aku meminta uang orang tuaku di Jawa, ku tahu
beliau juga susah payah memenuhi kebutuhannya. Ya Tuhan, Engkau tidak adil.
“Astaghfirullahaladzim”, aku tergugah dari lamunanku. Segera ku
ambil air wudhu, menjalankan kewajibanku, dan aku meminta maaf terhadap
Tuhanku. Waktu bergulir, kembali ku buka sajadahku untuk bersujud di
kewajibanku yang ke lima ini. Di tengah keputus asaan, aku yakin Tuhan
memberikan jalan bagi orang yang sabar.
Esoknya, setelah menjalankan rutinitasku, ku coba mencari pekerjaan
lain. Namun tak kudapatkan. Hari berganti hari, kujalani hidup penuh kesabaran.
Tapi, uang tabunganku semakin menipis. Padahal sudah ku buat irit semua
pengeluaran. Aku memutar otak bagaimana dengan hidupku? Tak berapa lama, hp ku
bordering. Pak Raihan menelfonku? Ada apa gerangan? Ku coba mengangkat hp ku.
“Assalamualaikum Pak Raihan,”
“Waalaikum salam, maaf saya istrinya mas Raihan”
Lemas seketikan tubuhku, menetes air mataku seolah tidak percaya
bahwa Pak Raihan menikah dengan perempuan lain.
“Halo, mbak” istri Pak Raihan menyapa.
“I…iya. Maaf, bagaimana? Ada yang bisa saya bantu?” jawabku dengan
dada penuh sesak.
“Benar ini dengan Mbak Nada?” tanyanya.
“Iya, ada apa?”
“Tak berapa lama ini, saya melihat tulisan-tulisan mas Raihan di
laptopnya. Ternyata semua bercerita tentang mbak. Em, apakah mbak juga ada rasa
dengan mas Raihan?”
“Pak Raihan menulis tentangku? Apa aku tidak salah dengar?” hatiku
semakin tidak karuan.
Tak berapa lama, aku mendengar suara ketukan pintu
“Mohon maaf mbak, saya akan menelfon kembali nanti. Saya ada tamu.
Assalamualaikum” ku tutup telfonnya.
Ku buka pintu, kaget bukan kepalang.
“Pak Raihan?”
“Iya, bolehkah saya masuk?”
“Maaf, saya tinggal sendiri. Lebih baik kita ngobrol di luar. Takut
terjadi fitnah.” Sangkalku. Sebenarnya tetangga tidak peduli seandainya aku
memasukkan Pak Raihan ke dalam rumah. Tapi, masalahnya, Pak Raihan sudah
mempunyai istri.
“Ada keperluan apa Pak?” tanyaku.
“Tidak usah panggil “Pak”, panggil “mas” saja.”
“Iya mas” kataku canggung.
“Kenapa kamu menangis?” tanya Pak Raihan padaku.
“Eg…enggak papa. I… ini tadi kelilipan” Jawabku bohong.
“Jangan bohong lah, dah lama aku kenal kamu,”
“Nggak bohong Kok”
“Boleh aku sebut namamu?”
“I…i….iya”
“Nada, sekian lama kita bersama, semakin hari aku tak kuat menahan
perasaan ini. Rasanya ingin aku berjalan menuju masa depanku dengan
didampingimu. Aku mencintaimu karena Allah.”
“Ta…tapi…”
“Kalau memang kamu tidak berkenan, aku tidak memaksa”
“Bukan seperti itu maksud saya mas, ta…tadi”
“Yang telfon mengaku istri saya?”
Kuanggukkan kepala tanpa berani memandang mas Raihan.
“Dia adikku, memang sengaja, untuk mengetahui kamu cinta nggak sama
aku”
“Kamu tega ya mas, memperlakukan aku seperti itu” emosiku memuncak.
“Berarti kamu cinta sama aku?”
Malu rasanya ingin ku jawab Ya.
“Nada?”
“Aku juga mencintaimu karena Allah” entah kenapa kata itu bisa keluar
dari mulutku.
Waktu bergulir.
Tak terasa sudah tiga tahun aku menjadi pendamping Mas Raihan. Kini beliau
menjadi kepala sekolah di tempat dulu kami bekerja. Aku pun juga kembali
mengajar di sana. Ternyata kepala sekolah yang dulu memecat kami, melakukan
tindak korupsi, jadi harus menginap dalam hotel prodeo. Rencana Tuhan memang
indah, seindah pelangi setelah hujan.