Label

Jumat, 27 Oktober 2017

Pelangi Asa

Pelangi Asa
Oleh Ulfa Fakhiyatul Ailia
             Alarm ku berdering memecah kesunyian pagi hari. Ku gayuh dengan cepat, lalu ku matikan. Rasanya masih enggan menyibak selimut dan beranjak dari tempat tidur. Ku coba untuk menutup mata, melanjutkan mimpi yang kurasa belum selesai. Saat tubuh hampir terlelap, suara adzan subuh terdengar dari surau sebrang. Keras memang, namun terasa menyejukkan hati. Tanpa ragu, ku bergegas untuk membasuh diri dan berwudhu. Ku langkahkan kaki menuju perahu gethek untuk menuju surau. Udara segar yang ku hirup, pemandangan sungai Kapuas yang masih indah dan langkah kaki yang terasa ringan, ku anggap sebagai anugrah Tuhan yang luar biasa yang tidak boleh untuk ku sia-siakan. Sambil ku lantunkan dzikir, tak terasa aku sampai di sebuah dermaga kecil sebelah kampung. Ku naiki gethek perlahan. Hanya ada dua orang penumpang yang ternyata tujuannya sama denganku. Lima menit kemudian, aku sampai di surau. Sebuah surau yang menurutku besar, namun sepi karena jarang disinggahi. Karena rata-rata mereka tak sempat menunaikan kewajiban di surau karena sibuk akan dagangan masing-masing. Maklum, sebagian besar warga menyambung hidup di pasar apung.
            Kewajibanku di pagi hari telah selesai. Kembali aku menaiki gethek untuk bisa pulang ke rumah. Sesampai di rumah, aku bersiap untuk kerja. Sesampai di sekolah tempatku mengajar, sambutan murid-murid sopan nan lugu menyambutku. Senyum mereka merupakan sebuah semangatku. Pukul 07.00 bel sekolah bordering. Ku jalankan kewajiban profesiku yaitu menyalurkan ilmu yang ku peroleh waktu duduk di bangku kuliah. Waktu berjalan begitu cepat. Kumandang adzan dhuhur dari surau sekolah menggugah hatiku untuk kembali menunaikan kewajibanku. Selesai menjalankan, aku kembali bersama murid-murid di kelas. Tak berapa lama, bel pulang berdering. Anak-anak bergegas meninggalkan ruangan satu per satu. Aku kembali menuju ruang guru.
“Bu Nada, hari ini ada rapat mendadak pembahasan dana BOS, sudah mendapat informasikah?” Pak Raihan menanyaiku.
“Benarkah? Belum sama sekali Pak” jawabku kaget
“Oh mungkin sms saya tak masuk,”
“Mungkin. Semalam memang ada gangguan jaringan”
“Ya sudah, mari ke ruang kepala sekolah”
Ku anggukkan kepalaku tanpa sepatah katapun. Entah kenapa setiap bertemu Pak Raihan hati terasa sejuk. Teduh wajahnya membuatku melamunkan masa depan. Ah, itu hanya anganku saja. Tak mungkin Pak Raihan meminangku. Rapat berjalan begitu alot. Adzan asar berkumandang dari surau seberang. Duh, tak mungkin aku ijin untuk menjalankan kewajiban. Maklum, kepala sekolah bukanlah orang yang mudah diajak musyawarah. Terlebih, beliau orang yang sensitif dan ingin selalu diperhatikan. Keputusannya tidak dapat diganggu gugat meski para dewan guru berfikir itu tidak rasional. Huh, jaman sekarang, jabatan mengalahkan segalanya.  Hatiku berkecamuk. Bisakah aku menjalankan kewajibanku tepat waktu? Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Pak Raihan juga nampak gelisah. Dia memang sosok muslim sejati yang pernah ku kenal. Waktu sudah menunjuk pukul 16.45. Rapat belum juga selesai. Akhirnya ku beranikan diri untuk menyela pembicaraan kepala sekolah.
“Maaf Pak, mohon ijin untuk solat”
“Solat kan bisa nanti, ini lebih penting Bu Nada!!” bentak kepala sekolah terhadapku.
“Tidak ada yang lebih penting dari panggilan Tuhan Pak, kelonggaran yang diberikan Tuhan hampir habis Pak,!”
“Apa bapak mau menanggung dosa kami?” Pak Raihan menimpali.
“Cukup! Karena kalian berdua telah mengganggu kelancaran rapat ini, saya pecat sepihak!”
Hati ku bagai tersambar petir. Aku dan Pak Raihan segera meninggalkan ruang rapat. Tak terasa air mataku meleleh. Pak Raihan berusaha menenangkanku.
“Sudahlah Bu Nada, Tuhan maha tahu akan kejadian yang selanjutnya. Kita hanya bisa berusaha, Tuhanlah penentu takdir” kata Pak Raihan menenangkan hatiku.
Hanya anggukan yang ku berikan. Kami berdua menuju surau sekolah untuk menjalankan kewajiban, lalu pulang ke rumah masing-masing. 
            Tak berapa lama sampai rumah, adzan maghrib berkumandang. Aku enggan menuju surau. Dalam hati ku mengklaim mengapa Tuhan tidak adil? Aku yang setiap hari menjalankan kewajibanku, kini kehilangan pekerjaan yang sangat kucintai. Tuhan jahat. Apa yang ahrus aku lakukan? bagaimana aku menghidupi diriku sendiri di tanah kelahiran orang?. Tak mungkin aku meminta uang orang tuaku di Jawa, ku tahu beliau juga susah payah memenuhi kebutuhannya. Ya Tuhan, Engkau tidak adil.
“Astaghfirullahaladzim”, aku tergugah dari lamunanku. Segera ku ambil air wudhu, menjalankan kewajibanku, dan aku meminta maaf terhadap Tuhanku. Waktu bergulir, kembali ku buka sajadahku untuk bersujud di kewajibanku yang ke lima ini. Di tengah keputus asaan, aku yakin Tuhan memberikan jalan bagi orang yang sabar.
Esoknya, setelah menjalankan rutinitasku, ku coba mencari pekerjaan lain. Namun tak kudapatkan. Hari berganti hari, kujalani hidup penuh kesabaran. Tapi, uang tabunganku semakin menipis. Padahal sudah ku buat irit semua pengeluaran. Aku memutar otak bagaimana dengan hidupku? Tak berapa lama, hp ku bordering. Pak Raihan menelfonku? Ada apa gerangan? Ku coba mengangkat hp ku.
“Assalamualaikum Pak Raihan,”
“Waalaikum salam, maaf saya istrinya mas Raihan”
Lemas seketikan tubuhku, menetes air mataku seolah tidak percaya bahwa Pak Raihan menikah dengan perempuan lain.
“Halo, mbak” istri Pak Raihan menyapa.
“I…iya. Maaf, bagaimana? Ada yang bisa saya bantu?” jawabku dengan dada penuh sesak.
“Benar ini dengan Mbak Nada?” tanyanya.
“Iya, ada apa?”
“Tak berapa lama ini, saya melihat tulisan-tulisan mas Raihan di laptopnya. Ternyata semua bercerita tentang mbak. Em, apakah mbak juga ada rasa dengan mas Raihan?”
“Pak Raihan menulis tentangku? Apa aku tidak salah dengar?” hatiku semakin tidak karuan.
Tak berapa lama, aku mendengar suara ketukan pintu
“Mohon maaf mbak, saya akan menelfon kembali nanti. Saya ada tamu. Assalamualaikum” ku tutup telfonnya.
Ku buka pintu, kaget bukan kepalang.
“Pak Raihan?”
“Iya, bolehkah saya masuk?”
“Maaf, saya tinggal sendiri. Lebih baik kita ngobrol di luar. Takut terjadi fitnah.” Sangkalku. Sebenarnya tetangga tidak peduli seandainya aku memasukkan Pak Raihan ke dalam rumah. Tapi, masalahnya, Pak Raihan sudah mempunyai istri.
“Ada keperluan apa Pak?” tanyaku.
“Tidak usah panggil “Pak”, panggil “mas” saja.”
“Iya mas” kataku canggung.
“Kenapa kamu menangis?” tanya Pak Raihan padaku.
“Eg…enggak papa. I… ini tadi kelilipan” Jawabku bohong.
“Jangan bohong lah, dah lama aku kenal kamu,”
“Nggak bohong Kok”
“Boleh aku sebut namamu?”
“I…i….iya”
“Nada, sekian lama kita bersama, semakin hari aku tak kuat menahan perasaan ini. Rasanya ingin aku berjalan menuju masa depanku dengan didampingimu. Aku mencintaimu karena Allah.”
“Ta…tapi…”
“Kalau memang kamu tidak berkenan, aku tidak memaksa”
“Bukan seperti itu maksud saya mas, ta…tadi”
“Yang telfon mengaku istri saya?”
Kuanggukkan kepala tanpa berani memandang mas Raihan.
“Dia adikku, memang sengaja, untuk mengetahui kamu cinta nggak sama aku”
“Kamu tega ya mas, memperlakukan aku seperti itu” emosiku memuncak.
“Berarti kamu cinta sama aku?”
Malu rasanya ingin ku jawab Ya.
“Nada?”
“Aku juga mencintaimu karena Allah” entah kenapa kata itu bisa keluar dari mulutku.
            Waktu bergulir. Tak terasa sudah tiga tahun aku menjadi pendamping Mas Raihan. Kini beliau menjadi kepala sekolah di tempat dulu kami bekerja. Aku pun juga kembali mengajar di sana. Ternyata kepala sekolah yang dulu memecat kami, melakukan tindak korupsi, jadi harus menginap dalam hotel prodeo. Rencana Tuhan memang indah, seindah pelangi setelah hujan.