RESTU ORANGTUA GERBANG KESUKSESAN
FIDYA
ANGGARINI AZIZ 1410301020
Ramdani adalah seorang anak dari
keluarga miskin di salah satu desa. Orangtuanya berusaha kesana kemari membanting tulang demi
kelangsungan hidup mereka. Walaupan hidup dengan kesederhanaan, orangtua
Ramdani tetap memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Ayah Ramdani adalah
seorang buruh tani yang kadang ada pekerjaan, kadang juga tidak. Ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga.
Ramdani adalah anak pertama dari 2 bersaudara, Nasrul adalah nama adiknya yang
baru duduk di bangku SD.Bersyukurlah Paman Ramdani yang kaya menyanggupi
pembiayaan sekolahnya sampai selesai, begitu juga dengan biaya sekolah adik
Ramdani.
Setelah lulus SMP ia menginginkan untuk
sekolah di salah satu SMK ternama di daerahnya. Ketegangan mulai muncul ketika
Ayahnya tidak menyetujui pilihannya dan menginginkan ia sekolah di SMA bukan
SMK. Meskipun bukan keluarga berada Ayah Ramdani ingin anaknya mampu mengenyam
bangku kuliah dengan biaya dari Pamannya. Keinginan Ramdani begitu kuat hinga
ia selalau saja bercekcok dengan Ayahnya sendiri yang tidak mau mengalah.
Dengan modal kenekatannya itu Ramdani mendaftar ke SMK. Alangkah kagetnya Ayah
Ramdani ketika Ramdani menyodorkan berkas-berkas yang menunjukkan bahwa ia diterima
di SMK yang ia inginkan. Tetap dengan pendirian yang keras Ayah Ramdani menolak
untuk menandatanganinya. Begitu sakit hati Ramdani mendengar kata-kata Ayahnya
yang tidak mau menandatangani berkas yang ia bawa. Ibu Ramdani tidak mau
tinggal diam mendengar percakapan mereka, ia pun segera membujuk dan
mendinginkan hati suaminya agar mau menandatangani berkas anaknya. Akhirnya
ditandatangani pula berkas itu. Selama sekolah di SMK Ayah Ramdani tidak mau
mengambilkan rapor Ramdani. Tidak mau tahu lagi hiruk pikuk perjalanan pedidikan
yang ditempuh anaknya, dan selalu saja membandingkan Ramdani dengan Nasrul adiknya
yang selalu menurutu apa kata Ayahnya. Di rumah pun selalu saja ribut dengan
hal sepele. Sikap Ayahnya itu membuat Ramdani malas belajar, nilainya pun tidak
memuaskan.
Hancurlah hati Ibu Ramdani melihat
ketidak harmonisan anak dan suaminya, peluhnya tidak mampu ia bendung lagi.
Hati Ramdani juga ikut teriris melihat Ibunya menangis. Ia pun mulai memupuk
asa untuk masa depannya. Berjanji dalam hati akan membahagiakan Ibunya dan
membuktikan kepada Ayahnya bahwa sekolah di SMK juga bisa kuliah dan sukses
dengan bekal yang didapat. Setelah kejadian itu, Ramdani mulai belajar dengan
sungguh-sungguh walau dibawah tekanan Ayahnya. Nilai rapornya juga mengalami
peningkatan. Nilai Ujian Nasionalnya juga bagus-bagus.
Setelah lulus ia mendaftar ke salah
satu perusahaan batu bara di Kalimantan dengan dibiaya Pamannya . Tidak semulus
yang ia bayangkan ternyata. Ramdani gagal dalam seleksi awal. Dia tidak patah
semangat, bertekad tahun depan ikut seleksi lagi. Sepertinya Ayah Ramdani masih
menyimpan jengkel kepadanya, ia tidak menggubris jika Ramdani tidak diterima. Menunggu
seleksi tahun depan ia bekerja seadanya tanpa melalaikan belajar untuk seleksi
tahun depan yang ia tunggu. Tibalah pendaftaran menjadi karyawan batu bara. Ternyata
ia lolos dalam seleksi tahap 3 dari 5 tahap yang harus ia hadapi. Kegagalan
demi kegagalan Ramdani lalui. Hingga ia sadar bahwa restu Ayahnya juga
mempengaruhi kesuksesannya. Ia malu jika mengingat kekerasan hatinya kepada
Ayahnya. Ia pin minta maaf dan berjanji tidak akan membangkang Ayahnya lagi. Akhinya Ramdani mengikuti
kemauan Ayahnya untuk kuliah. Dia kuliah di Fakultas Teknik dengan biaya
Pamannya itu. Restu orangtua dan keakurannya dengan Ayahnya mengantarkannya
lulus perguruan tinggi. Dan mendaftar di perusahaan minyak di Indonesia.
Langsung saja dia lancar melalui tahap-tahap seleksi. Ramdani pun sudah mampu
membuktikan kepada Ayahnya bahwa lulusan SMK juga bisa kuliah dan bekerja di
tempat yang layak. Dia juga mampu membalas peluh yang menetes dari air mata
Ibunya dengan kebahagiaan. Keluarga Ramdani pun guyup rukun tanpa percekcokan
antar keluarga. Dan Adiknya Nasrul mengikuti jejaknya masuk SMK dengan restu
Ayah dan Ibunya.