Label

Selasa, 31 Oktober 2017

RESTU ORANGTUA GERBANG KESUKSESAN

RESTU ORANGTUA GERBANG KESUKSESAN
FIDYA ANGGARINI AZIZ 1410301020

Ramdani adalah seorang anak dari keluarga miskin di salah satu desa. Orangtuanya berusaha  kesana kemari membanting tulang demi kelangsungan hidup mereka. Walaupan hidup dengan kesederhanaan, orangtua Ramdani tetap memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Ayah Ramdani adalah seorang buruh tani yang kadang ada pekerjaan, kadang juga tidak.  Ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga. Ramdani adalah anak pertama dari 2 bersaudara, Nasrul adalah nama adiknya yang baru duduk di bangku SD.Bersyukurlah Paman Ramdani yang kaya menyanggupi pembiayaan sekolahnya sampai selesai, begitu juga dengan biaya sekolah adik Ramdani.
Setelah lulus SMP ia menginginkan untuk sekolah di salah satu SMK ternama di daerahnya. Ketegangan mulai muncul ketika Ayahnya tidak menyetujui pilihannya dan menginginkan ia sekolah di SMA bukan SMK. Meskipun bukan keluarga berada Ayah Ramdani ingin anaknya mampu mengenyam bangku kuliah dengan biaya dari Pamannya. Keinginan Ramdani begitu kuat hinga ia selalau saja bercekcok dengan Ayahnya sendiri yang tidak mau mengalah. Dengan modal kenekatannya itu Ramdani mendaftar ke SMK. Alangkah kagetnya Ayah Ramdani ketika Ramdani menyodorkan berkas-berkas yang menunjukkan bahwa ia diterima di SMK yang ia inginkan. Tetap dengan pendirian yang keras Ayah Ramdani menolak untuk menandatanganinya. Begitu sakit hati Ramdani mendengar kata-kata Ayahnya yang tidak mau menandatangani berkas yang ia bawa. Ibu Ramdani tidak mau tinggal diam mendengar percakapan mereka, ia pun segera membujuk dan mendinginkan hati suaminya agar mau menandatangani berkas anaknya. Akhirnya ditandatangani pula berkas itu. Selama sekolah di SMK Ayah Ramdani tidak mau mengambilkan rapor Ramdani. Tidak mau tahu lagi hiruk pikuk perjalanan pedidikan yang ditempuh anaknya, dan selalu saja membandingkan Ramdani dengan Nasrul adiknya yang selalu menurutu apa kata Ayahnya. Di rumah pun selalu saja ribut dengan hal sepele. Sikap Ayahnya itu membuat Ramdani malas belajar, nilainya pun tidak memuaskan.
Hancurlah hati Ibu Ramdani melihat ketidak harmonisan anak dan suaminya, peluhnya tidak mampu ia bendung lagi. Hati Ramdani juga ikut teriris melihat Ibunya menangis. Ia pun mulai memupuk asa untuk masa depannya. Berjanji dalam hati akan membahagiakan Ibunya dan membuktikan kepada Ayahnya bahwa sekolah di SMK juga bisa kuliah dan sukses dengan bekal yang didapat. Setelah kejadian itu, Ramdani mulai belajar dengan sungguh-sungguh walau dibawah tekanan Ayahnya. Nilai rapornya juga mengalami peningkatan. Nilai Ujian Nasionalnya juga bagus-bagus.
Setelah lulus ia mendaftar ke salah satu perusahaan batu bara di Kalimantan dengan dibiaya Pamannya . Tidak semulus yang ia bayangkan ternyata. Ramdani gagal dalam seleksi awal. Dia tidak patah semangat, bertekad tahun depan ikut seleksi lagi. Sepertinya Ayah Ramdani masih menyimpan jengkel kepadanya, ia tidak menggubris jika Ramdani tidak diterima. Menunggu seleksi tahun depan ia bekerja seadanya tanpa melalaikan belajar untuk seleksi tahun depan yang ia tunggu. Tibalah pendaftaran menjadi karyawan batu bara. Ternyata ia lolos dalam seleksi tahap 3 dari 5 tahap yang harus ia hadapi. Kegagalan demi kegagalan Ramdani lalui. Hingga ia sadar bahwa restu Ayahnya juga mempengaruhi kesuksesannya. Ia malu jika mengingat kekerasan hatinya kepada Ayahnya. Ia pin minta maaf dan berjanji tidak akan membangkang  Ayahnya lagi. Akhinya Ramdani mengikuti kemauan Ayahnya untuk kuliah. Dia kuliah di Fakultas Teknik dengan biaya Pamannya itu. Restu orangtua dan keakurannya dengan Ayahnya mengantarkannya lulus perguruan tinggi. Dan mendaftar di perusahaan minyak di Indonesia. Langsung saja dia lancar melalui tahap-tahap seleksi. Ramdani pun sudah mampu membuktikan kepada Ayahnya bahwa lulusan SMK juga bisa kuliah dan bekerja di tempat yang layak. Dia juga mampu membalas peluh yang menetes dari air mata Ibunya dengan kebahagiaan. Keluarga Ramdani pun guyup rukun tanpa percekcokan antar keluarga. Dan Adiknya Nasrul mengikuti jejaknya masuk SMK dengan restu Ayah dan Ibunya.